Pengungsi Rohingya bertahan di YLBHI

Image caption Sebagian pengungsi Rohingya yang ditampung di YLBHI, Jakarta.

Masa depan delapan belas orang pengungsi etnis Rohingya asal Myanmar, yang ditampung di kantor YLBHI, Jakarta, masih belum jelas.

Sampai Rabu (24/07), mereka masih tinggal di salah-satu ruangan kantor YLBHI semenjak tiga pekan lalu, setelah sebelumnya hidup terlunta-lunta selama sekitar enam bulan di Medan, Bogor dan Jakarta.

Mereka sepenuhnya mengandalkan bantuan untuk kebutuhan sehari-hari dari orang atau pihak lain, demikian keterangan YLBHI.

"Mereka masih kita tampung. Ini kita lakukan atas dasar kemanusiaan," kata Wakil Ketua YLBHI, Gatot Rianto, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Rabu (24/07) siang.

Sejauh ini, Badan PBB yang menangani pengungsi, UNCHR, melalui kantornya di Jakarta, belum memberikan tanggapan tentang status mereka sebagai pengungsi, kata koordinator bantuan hukum YLBHI, Julius Ibrani.

"Mereka (UNHCR) mengaku masih melakukan verifikasi tentang status pengungsi orang-orang Rohingya ini. Cuma saja, jangka waktu kapan proses itu selesai, mereka belum bisa memastikan," kata Julius saat dihubungi BBC Indonesia, Rabu petang.

Delapan belas orang pengungsi etnis Rohingya asal Myanmar - yang terdiri tiga pria dewasa, tujuh anak kecil dan enam perempuan dewasa - ini, menempuh jalan ilegal untuk menuju Australia.

Demi impian itu, mereka melakukan perjalanan darat melalui 'jalur tikus' ke Malaysia, sebelum naik kapal ke Sumatera Utara dan menuju Medan.

Di Medan, mereka mengaku bertemu seseorang yang berjanji dapat membawa mereka berangkat ke Australia, namun mereka ditelantarkan ketika tiba di Bogor, Jawa Barat, sebelum akhirnya ditampung di kantor YLBHI.

'Rumah detensi penuh'

Sementara itu, Kementerian Hukum dan HAM melalui Direktorat Jenderal Imigrasi menyatakan "belum mengetahui keberadaan pengungsi Rohingya di YLBI."

"Saya justru baru tahu dari Anda," kata Direktur Penyidikan dan Penindakan Keimigrasian, Direktorat Jenderal Imigrasi, Ida Bagus Adnyana, saat dihubungi BBC Indonesia, Rabu.

Image caption Para pengungsi Rohingya ini minta suaka ke Australia, namun akhirnya terdampar di Kantor YLBHI.

Adnyana menjanjikan untuk mengecek langsung tentang keberadaan para pengungsi tersebut, serta berjanji berkoordinasi dengan Kantor UNHCR di Jakarta.

Menurutnya, Indonesia termasuk negara yang besikap "humanis terhadap para pengungsi yang mengaku mencari suaka politik, diantaranya orang-orang Rohingya".

"Pemerintah termasuk bersikap baik terhadap mereka, dengan menampungnya di Rumah Detensi Imigrasi di sejumlah daerah," tandas Adnyana.

Namun demikian, menurutnya, rumah detensi itu kini tidak mampu lagi menampung para imigran gelap. "Kami tidak bisa menampung lagi karena penuh," akunya.

Sejumlah pulau di Indonesia telah lama menjadi tujuan transit para pengungsi. Dalam beberapa bulan terakhir, tercatat ada peningkatan jumlah pencari suaka yang bepergian ke Australia dengan kapal.

Banyak dari mereka berasal dari Afghanistan, Irak, Iran dan Sri Lanka dan singgah di Indonesia sebelum melanjutkan perjalanan laut ke Australia.

Pulau Christmas, yang terletak sekitar 2.600 km dari Australia, tetapi hanya berjarak 300 km di selatan Indonesia, sering menjadi tujuan mereka karena itulah wilayah Australia yang terdekat dari Indonesia.

Buruknya kondisi kapal dan kurangnya pasokan serta persiapan, para pencari suaka kerap hilang di lautan antara Indonesia dan Australia, termasuk yang terjadi di perairan Jawa Barat pada Selasa (23/07) yang mengakibatkan delapan orang tewas.

Pemerintah dan Australia telah melakukan berbagai upaya untuk menahan imigran gelap asal Asia Barat, diantaranya dengan memperketat pemberian visa bagi warga Iran.

Australia juga telah memutuskan bahwa pencari suaka yang tiba dengan kapal tidak akan ditempatkan di Australia, namun akan mengirimnya ke Papua Nugini.

Berita terkait