Warga Syiah Sampang 'dipaksa bertobat'

  • 12 Agustus 2013
syiah
Image caption Sebagian pengungsi Syiah asal Sampang mengaku dipaksa 'bertobat'.

Sejumlah warga Syiah asal Sampang, Madura, mengaku dipaksa memeluk ajaran Islam Sunni oleh sejumlah kiai dan pejabat di Sampang, demikian keterangan YLBHU.

"Seorang warga pengungsi (Islam Syiah) yang sempat pulang kampung ke Karanggayam (di Sampang), dipaksa meneken ikrar syahadat ulang kembali ke ajaran Sunni dan mengakui ajaran Tajul Muluk/Syiah sesat," demikian keterangan pers Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universalia, YLBHU, yang diterima BBC Indonesia, Senin (12/08) pagi.

Menurut YLBHU, salah-seorang warga Syiah itu menolak untuk 'bertobat', namun dia kemudian "diancam keselamatannya dan rumahnya akan dibakar."

Saksi ini, lanjut YLBHU, kini berada di Jakarta dan akan memberikan kesaksian kepada wartawan terhadap apa yang dialaminya saat pulang ke Sampang.

"Saksi ini bisa menjelaskan motif dan cara bagaimana proses pemaksaan itu terjadi terhadap 35 orang warga Syiah di kampung yang terpaksa meneken ikrar syahadat ulang kembali ke ajaran Islam Sunni," kata Hertasning Ichlas, juru bicara YLBHU.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, menolak tuduhan adanya pemaksaan terhadap pengungsi Islam Syiah Sampang agar kembali menganut Islam Sunni.

"Bukan memaksa. Memang ada pembinaan untuk kembali ke daerah masing-masing," kata Gamawan kepada wartawan, usai salat Idul Fitri di Masjid Istiqlal , Kamis (08/08) lalu.

Menurutnya, pemerintah dan ulama Sampang melakukan pembinaan terhadap warga Islam Syiah tersebut, sebelum dia kembali ke kampungnya di Sampang, Madura.

"Sekarang tujuh keluarga sudah (bersedia kembali ke ajaran IslamSunni)," ungkap Gamawan, seraya menambahkan, saat ini tinggal 22 keluarga lainnya yang masih enggan kembali ke ajaran Sunni.

Nasib rekonsiliasi

Saat ini, sekitar 200 orang pengungsi Syiah asal Sampang, masih ditempatkan di rumah susun di Sidoarjo, Jawa Timur, setelah sempat berbulan-bulan tinggal di GOR Sampang, Madura, menyusul pengusiran mereka dari kampung halamannya.

Sekitar lima pekan silam, upaya rekonsiliasi digelar antara perwakilan pengungsi Syiah dengan kelompok penentangnya. Hal ini terjadi setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, akan memimpin langsung upaya perdamaian itu.

Presiden kemudian menunjuk sejumlah intelektual sebagai mediator perdamaian ini, yang melibatkan pula sejumlah ormas Islam, para ulama dan kiai Madura, serta perwakilan penganut Islam Syiah di Indonesia

Salah-satu opsi yang akan dilakukan adalah memulangkan pengungsi itu ke kampung halamannya di Sampang, meskipun tidak ada batas waktu yang jelas kapan mereka bisa pulang.

Sebagian ulama dan kiai Madura tidak melarang rencana pemulangan itu, tapi dengan syarat, yaitu, pengungsi Syiah dapat pulang ke kampungnya jika mereka kembali mengikuti ajaran Sunni.

Tuntutan ini ditolak oleh perwakilan pengungsi Syiah, dengan menyatakan bahwa mereka tidak menyalahi ajaran Islam.

Belum adanya titik temu ini menyebabkan proses perdamaian yang difasilitasi Rektor IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Abdul A'la ini, tidak berjalan cepat seperti yang diinginkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Berita terkait