Gejolak pasar cukup "mengkhawatirkan"

IHSG
Image caption IHSG sempat menyentuh level 5.200 sebelum akhirnya turun lagi ke level 4.175.

Penurunan harga saham dan pelemahan rupiah yang terjadi beberapa hari terakhir, menurut para analis, dinilai cukup mengkhawatirkan.

Pemerintah diharapkan bisa mengambil langkah konkrit untuk mengatasi gejolak ekonomi di pasar finansial.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada penutupan Selasa (20/08) turun 3,2% menjadi 4.175. Sehari sebelumnya, indeks bahkan turun lebih tajam sebesar 4,9% dari level 4.568.

Posisi yang sudah jauh lebih rendah dari level tertinggi IHSG tahun ini yang menyentuh 5.200 pada Mei kemarin.

Sepekan ke depan, analis Danareksa Sekuritas, Lucky Bayu Purnomo, memperkirakan tren turun akan terus berlanjut dan akan menguji level psikologis 4.000.

"Faktor utama pelemahan adalah kekhawatiran akan penghentian stimulus dari bank sentral Amerika Serikat. Investor menunggu kepastian stimulus dan data tingkat pengangguran," katanya kepada Wartawan BBC Indonesia, Christine Franciska.

Pelemahan harga saham hari ini juga diikuti dengan pelemahan nilai rupiah yang berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia telah menembus Rp10.504 per dolar atau melemah 53 poin dari sehari sebelumnya.

Beberapa mata uang di negara-negara berkembang juga kompak menurun -sebagai kekhawatiran mengeringnya stimulus The Fed.

Rupe India menyentuh titik terendah baru, yen Jepang turun 2,6%, dan di Bangkok mata uang bath turun lebih dari 3%, demikian dilansir AFP.

Stimulus AS

Menurut Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, faktor eksternal masih sangat mempengaruhi gejolak ekonomi dalam negeri. Utamanya adalah kekhawatiran akan penghentian stimulus dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, pada Sepember mendatang.

Beberapa tahun terakhir, The Fed telah menggelontorkan US$85 juta per bulan untuk membeli aset berupa surat utang untuk memicu pertumbuhan ekonomi AS.

Pembelian ini memicu peningkatan peredaran uang di pasar finansial dan berdampak pada mengalirnya dana segar ke negara-negara berkembang.

Namun, The Fed beranggapan program stimulusnya saat ini sudah membuat tingkat pengangguran cukup rendah sehingga ekonomi AS bisa berjalan sendiri tanpa stimulus.

Pelaku pasar khawatir, penghentian atau pengurangan stimulus akan membuat likuditas yang tadinya mengalir di negara berkembang kembali ke AS.

Langkah Konkrit

Selain itu, faktor dalam negeri juga ikut memberi dampak negatif. Defisit neraca transaksi berjalan dan tingginya inflasi membuat pelaku pasar pesimis pertumbuhan ekonomi tidak tumbuh seperti yang diharapkan.

"Dua hari terakhir pelemahan terlampau drastis. Ini takutnya memicu kepanikan di pasar. Pemerintah seharusnya sudah bisa mengantisipasi dan menentukan langkah jangka pendek dan jangka panjangnya seperti apa.

Image caption Pergerakan rupiah yang terus melemah dari awal 2013.

"Kita menanti langkah konkrit dari pemerintah. Harusnya memang dari kemarin-kemarin supaya pasar tidak kebingungan," kata David.

"Terutama soal inflasi karena Agustus nanti inflasi diperkirakan masih tinggi," lanjutnya.

Pekan lalu, Bank Indonesia mengatakan neraca transaksi berjalan melebar menjadi US$9,8 miliar pada kuartal kedua dari US$5,8 juta di kuartal pertama.

BI juga mengatakan cadangan devisa negara turun menjadi US$92,67 miliar pada Juli, dari US$98,09 miliar pada bulan sebelumnya.

Neraca transaksi berjalan -merupakan pengukuran yang lebih luas dari neraca perdagangan- mempengaruhi cadangan devisa dan nilai mata uang suatu negara.

Pada kuartal dua tahun ini, Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,81% secara tahunan, lebih rendah dari pencapaian di kuartal satu 2013 sebesar 6%.

Berita terkait