Polda Metro ungkap identitas penembak polisi

Image caption Polda merilis dua foto terduga kasus penembakan aggota kepolisian.

Polda Metro Jaya mengungkap identitas dua orang terduga pelaku rentetan penembakan sejumlah anggota kepolisian di wilayah Tangerang Selatan, Propinsi Banten.

Menurut polisi, kedua orang itu adalah Nurul Haq alias Jeck, kelahiran Jakarta pada 1985, dan Hendi Albar yang kelahiran 1983.

"Dari hasil penyelidikan, mereka terduga pelaku penembakan baik sebagai eksekutor atau pengemudi sepeda motor," kata Kepala bidang humas Polda Metro Jaya, Kombes Rikwanto, Jumat (30/08) siang, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan.

Temuan polisi menyimpukan, kedua pria itu sebelumnya terlibat kasus perampokan BRI Cililin dan Kantor Pos Cibaduyut di Bandung, serta perampokan toko emas di Jalan Tambora, Jakarta.

Keterangan para saksi juga menyebutkan, mereka terlibat pula dalam kasus penembakan anggota polisi di Bekasi, Jawa Barat.

"(Dalam berbagai kasus itu) mereka selaku penyedia senjata api dan merakit bom pipa," ungkap Rikwanto.

Berdasarkan hasil penyelidikan, menurut Rikwanto, mereka merupakan anggota jaringan teroris. Namun Polda tidak bersedia menyebut latar jaringan keduanya.

Polda Metro Jaya kemudian merilis foto kedua orang tersebut, dan menyatakan mereka sebagai buronan.

Ahli merakit senjata

Sejak Juli lalu, sedikitnya empat orang anggota polisi yang menjadi korban penembakan orang tidak dikenal.

Anggota Polsek Metro Gambir, Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda) Patah Saktiyono mengalami luka tembak di bagian punggung belakang, pada 27 Juli lalu, di Cirendeu, Ciputat.

Pada 7 Agustus lalu, anggota satuan Bina Masyarakat Polsek Metro Cilandak, Ajun Inspektur Satu Dwiyatna, tewas ditembak di Jalan Ciputat Raya, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.

Kemudian, 16 Agustus 2013, anggota Polsek Pondok Aren Brigadir Polisi Dua (Bripda) Maulana dan Aipda Kus Hendratma, tewas akibat ditembak dari jarak dekat.

Hasil penyelidikan kepolisian menyimpulkan bahwa kedua pria ini memiliki ketrampilan merakit senjata dan membuat bom pipa. "Mereka juga pernah mengambil latihan di Gunung Syawal, Jabar," kata Rikwanto.

Mabes Polri mengatakan bahwa aksi kelompok teroris yang menyasar aparat kepolisian sudah berlangsung sejak 2010 lalu.

Sebelumnya aksi penembakan polisi terjadi di Poso, Sulawesi Tengah dan Solo, Jawa Tengah. Aksi yang terjadi belakangan ini diduga masih merupakan kelanjutan dari aksi-aksi tersebut.

Berita terkait