Permintaan maaf Belanda dinilai 'terburu-buru'

rawagede
Image caption Sebelumnya Belanda telah memberikan ganti rugi pada janda korban Rawagede

Duta Besar Belanda Tjeerd de Zwaan hari Kamis (12/09) menyampaikan permohonan maaf pemerintah Belanda kepada 10 janda yang suaminya menjadi korban eksekusi tentara Belanda di Sulawesi Selatan pada 1945-1949.

"Pemerintah Belanda menyadari bahwa kami menanggung tanggung jawab terhadap para janda korban eksekusi tentara Belanda di daerah yang dulu dikenal dengan Celebes Selatan dan Rawagede," kata Duta Besar de Zwaan di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis.

"Atas nama pemerintah Belanda saya meminta maaf dan hari ini saya meminta maaf kepada para janda dari Bulukumba, Pinrang, Polewali Mandar dan Parepare," tambahnya.

Hanya tiga dari 10 orang janda korban yang hadir di Jakarta karena usia mereka sudah lanjut dan tidak kuat menempuh perjalanan jauh. De Zwaan dan tim dari Kedubes Belanda akan terbang ke Makassar pada 18 September mendatang untuk menemui para perwakilan keluarga.

Setiap ahli waris korban mendapat ganti rugi sebesar 20.000 euro (Rp296 juta).

"Pemerintah Belanda berharap permintaan maaf ini menutup sebuah babak yang sulit bagi mereka yang hidupnya terkena dampak kekerasan yang terjadi antara 1945-1949 ini," tambah de Zwaan.

'Terburu-buru'

Permintaan maaf ini merupakan "sejarah baru", menurut Jeffry Pondakh, dari Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) di Amsterdam yang sejak 2009 aktif memperjuangkan keadilan bagi para korban pembantaian Westerling.

"Ini adalah sebuah momen yang sangat bersejarah karena setelah 68 tahun akhirnya permintaan maaf itu datang dan ganti rugi itu sangat layak mereka dapatkan karena suami mereka dibunuh dan rumah mereka dibakar oleh pemerintah Belanda," kata Jeffry kepada Pinta Karana dari BBC melalui telepon.

Namun ia mempertanyakan keputusan pemerintah Belanda yang, menurutnya, terburu-buru meminta hal sepenting ini disampaikan hanya melalui duta besar.

"Bulan November nanti Perdana Menteri Belanda Mark Rutte akan datang ke Indonesia, kenapa bukan perdana menteri yang menyampaikannya?," tanya dia.

Informasi dari Kementerian Luar Negeri Indonesia menyebutkan, Rutte akan tiba di Jakarta pada pekan ketiga November dan membawa rombongan dari kalangan bisnis.

Sementara itu, berdasarkan catatan KUKB, masih ada 30 janda di Sulawesi Selatan yang berhak mendapatkan permintaan maaf dan ganti rugi dari Belanda.

"Mereka semua sudah siap berkasnya tinggal dilaporkan saja kepada pemerintah Belanda, saya berharap pemerintah Indonesia atau Presiden Yudhoyono membantu para janda ini, yang suaminya mati dibunuh Belanda demi perjuangan kemerdekaan Indonesia," tambah Jeffry.

Berita terkait