IPW: Penembakan oleh Brimob teror bagi masyarakat

Senjata api
Image caption IPW menyerukan agar Kapolri menetapkan anggota yang berhak bawa senjata.

Penembakan seorang petugas satpam di Taman Palem Lestari, Cengkareng, oleh seorang anggota Brimob dinilai Indonesia Police Watch sebagai "teror terhadap masyarakat."

Pernyataan itu disampaikan oleh Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane kepada BBC Indonesia.

Kasus ini berawal ketika Briptu W, anggota Brimob Polri, mendatangi Satpam Bachrudin yang bertugas menjaga Ruko Seribu dan meminta agar satpam berusia 45 tahun itu melakukan hormat kepadanya.

Permintaan itu ditolak dan senjata api jenis revolver kalilber 38 milik Briptu W pun meletus.

Polda Metro Jaya menyatakan Bachrudin tewas seketika dengan luka tembak di dada.

"Apa yang dilakukan anggota Brimob ini satu teror bagi masyarakat karena itu sangat pantas menurut kita jika ia dijatuhi hukuman maksimal bahkan hukuman mati," kata Neta.

"Orang yang ia tembak adalah anggota pengamanan sipil dan tidak bersenjata, kami menilai ada kelainan jiwa dari anggota Brimob ini," kata Neta.

Pertengkaran

Image caption Kapolri Sutarman diminta menyeleksi ulang anggota polisi yang berhak membawa senjata api

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto dalam keterangan pers menceritakan kronologi peristiwa tersebut.

Menurut Rikwanto, awalnya adalah pertengkaran antara tersangka dan korban. Briptu W datang ke ruko tetapi korban tidak berada di tempat karena sedang ke kamar kecil.

"Tak lama kemudian datang, lalu dimarahi dan disuruh push-up tapi karena satpam ini merasa tidak bersalah maka ia menolak melaksanakannya, lalu timbul amarah dari pelaku," kata Rikwanto.

"Kemudian tersangka mencabut pistol maksudnya untuk menakut-nakuti tapi tiba-tiba pistol menyalak," tambahnya.

Briptu W, menurut Rikwanto, melaporkan perbuatannya ke kesatuannya di Mako Brimob Kelapa Dua.

Siapa layak pegang senjata?

Seorang anggota Brimob tidak selayaknya membawa senjata api selama 24 jam kecuali ia sedang bertugas di daerah konflik, kata Neta.

Ia menghimbau Kapolri Jenderal Sutarman tegas menetapkan anggota yang berhak membawa senjata api.

"Bercermin dari kasus ini sudah saatnya Kapolri baru Sutarman menseleksi ulang anggota yang berhak membawa senjata api karena polisi yang menderita gangguan jiwa tidak diperkenankan membawa senjata api," kata Neta.

"Menurut standarnya, anggota yang berhak membawa senjata 24 jam adalah reserse karena ia menumpas kejahatan atau mengusut sebuah kasus tapi Brimob kecuali ia ditugaskan di tempat konflik atau daerah rawan, ia tidak berhak membawa senjata selama 24 jam dan begitu selesai bertugas senjata itu harus dikembalikan ke satuannya," ujarnya.

Ia menyayangkan pengawasan dari polisi yang dinilainya teledor sehingga anggota polisi bisa bertindak sewenang-wenang tanpa peri kemanusiaan.

"Ironis sekali ketika polisi masih berusaha menangkap pelaku penembakan terhadap sejumlah anggotanya, anggota korps kepolisian justru melakukan penembakan terhadap sipil," kata Neta di akhir wawancara.

Kasus ini ditangani oleh Polres Metro Jakarta Barat. Jenazah Satpam Bachrudin sendiri telah dimakamkan oleh keluarganya.

Ia meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang duduk di bangku SMA.

Berita terkait