Seruan dunia usaha untuk selamatkan rupiah

  • 29 November 2013
dollar rupiah
Nilai tukar rupiah terhadap dolar terburuk dalam lima tahun

Pemerintah diharapkan sigap mengambil langkah penguatan rupiah bersama Bank Indonesia setelah nilai tukar rupiah terpuruk mendekati Rp12.000 per dolar.

Nilai tukar rupiah saat ini dinilai yang terburuk dalam lima tahun terakhir.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Sofyan Wanandi, mengatakan tindakan cepat diperlukan agar masyarakat tidak panik.

"Ini tidak bisa diselesaikan oleh Bank Indonesia yang secara moneter saja, tapi juga pemerintah harus cepat menyelesaikan dengan paket-paket stimulus yang mereka janjikan. Jadi orang memang sudah panik psikologisnya, kok sudah 12.000 saja," kata Sofyan kepada wartawan BBC Pinta Karana.

Ia mengharapkan pemerintah dapat segera mewujudkan empat paket stimulus yang dijanjikan pemerintah pada bulan Agustus, yang meliputi paket kebijakan fiskal, moneter, pasar modal sampai industri.

Sejak Agustus, nilau rupiah mengalami penurunan dan tanpa respon cepat maka dikhawatirkan masyarakat akan menanggung akibatnya dengan kenaikan harga pasalnya sebagian besar bahan baku industri masih berasal dari impor.

"Hampir semua industri manufacturing terpukul karena masih impor bahan bakunya. Kita harus impor gandum untuk makanan, gula untuk makanan minuman, kapas untuk tekstil, kulit untuk sepatu, impor kita besar termasuk untuk mobil-mobil kita karena kita tidak punya industri yang dari dari hulu ke hilir," tambahnya.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan BI aktif melakukan intervensi dan meminta masyarakat tidak panik.

"Pada akhir bulan ada permintaan tinggi tapi ini memang menjelang akhir tahun. Mohon kita jangan menjadi panik karena ini satu kondisi yang mencerminkan fundamental ekonomi kita dan Bank Indonesia yakin kalau ada gejolak, ini masih dalam batas-batas yang masih terjaga stabilitasnya," kata Agus kepada wartawan di Bank Indonesia, Jumat (29/11), seperti dilaporkan wartawan BBC Heyder Affan.

Kebijakan tidak tepat sasaran

Melemahnya rupiah menurut pengamat keuangan dan perbankan, Yanuar Rizky, menunjukkan langkah-langkah yang diambil Bank Indonesia, termasuk menaikkan suku bunga (SBI) menjadi 7,5% kurang tepat sasaran.

"Negara kita semua barang datang dari impor. Pemicu inflasi adalah kurs. Dan orang selalu bilang BI rate untuk jaga inflasi. Nah sekarang inflasi naik karena nilai tukar melemah.

"Efek BI rate itu sistemnya tidak langsung seperti sepakbola tetapi seperti main biliar, karena efeknya pantul. Kenapa? Karena yang mengendalikan permainan adalah Bank Sentral AS, The Fed."

"Sekarang market maker tidak menginginkan suku bunga, yang diinginkan US dollar yang kemarin digelontorkan harus menuai return yang lebih besar. Sehingga kebijakan SBI untuk mengendalikan dolar ya tidak efektif," kata Yanuar.

Menurutnya, persoalan sesungguhnya sudah terjadi sejak 2009 tetapi tidak terlalu terasa.

"Karena pada 2009 rupiah berada di Rp12.889 per dolar. Kemudian mulai Maret 2009 ada kebijakan quantitative easing dari The Fed, itu yang memperkuat rupiah karena dolar membanjiri pasar dan melemahkan dirinya sendiri," kata dia.

Quantitative easing adalah kebijakan nonkonvensional untuk melonggarkan kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral satu negara dengan cara mengucurkan uang baru dalam jumlah besar.

Uang baru itu akan disalurkan kepada bank-bank lokal dengan tujuan memicu perkreditan rakyat dan korporat, mendorong pembelanjaan dan mengurangi tekanan pada bank lokal di suatu negara.

Kenaikan harga

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo meminta masyarakat tidak panik

Seperti Sofyan, Yanuar juga berharap situasi ini dapat segera dikendalikan demi kepentingan masyarakat banyak.

"Tentu dampak yang dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga karena bahan bakunya yang impor harganya naik dari Rp9.000 jadi Rp12.000. Di sisi lain, kestabilan antara supply and demand pun tidak terjadi karena harga ekspor di pasar internasional yang jadi andalan ekspor Indonesia turun harganya," kata dia.

Terjun bebas rupiah ini terjadi di saat yang kritis karena di akhir tahun dunia usaha justru mengumpulkan dolar sebanyak-banyaknya.

"Di bulan Desember kita sedang sibuk mengumpulkan uang buat membayar utang-utang kita, deviden kita dan juga kumpulin uang untuk Christmas, New Year, jalan-jalan. Dan juga karena ketidakpastian ini orang tidak berani jual dolar karena kebutuhan meningkat tapi supply berkurang," kata Sofyan.

Untuk pengendalian praktis jangka pendek, APINDO menghimbau dunia usaha agar menolong penguatan rupiah dengan menggunakan mata uang itu untuk transaksi dalam negeri.

"Kita juga harus paksakan juga jangan sampai di dalam negeri sendiri belanjanya juga dalam dolar, semua transaksi pakai dolar ya tentu saja kelangkaan terjadi," tutupnya.

Berita terkait