SBY bahas kenaikan gas elpiji

Wakil Presiden Boediono mengatakan, hasil rapat terbatas membahas masalah kenaikan harga jual gas 12kg akan dilaporkan kepada Presiden SBY, Minggu (05/01) besok.

Image caption Presiden SBY menugaskan Wapres Boediono untuk membahas kenaikan harga jual gas12kg.

Rapat mendadak di Kantor Wapres ini berakhir sekitar pukul 17.00 WIB tanpa ada keterangan pers tentang hasil dari pertemuan yang dihadiri menteri-menteri ekonomi, pimpinan Pertamina dan pihak terkait.

Dalam keterangan singkat kepada wartawan, Boediono mengatakan, rapat membahas secara detil tentang kebijakan menaikkan harga gas 12kg.

"Kita bahas secara mendalam, ketersediaan, hambatan di lapangan, dan sistem distribusi. Kami juga mendengar laporan-laporan dari lapangan, kami juga mengecek segi pandangan para menteri," kata Boediono, Sabtu (04/01) sore.

Namun demikian, Boediono tidak bersedia menjelaskan hasil rapat tersebut.

"Hasil rapat akan kita laporkan ke Presiden besok. Besok (Minggu, 05/01) akan ada rapat dengan Pak Presiden dengan menteri-menteri terkait," katanya.

Perintah Presiden SBY

Sebelumnya, Presiden SBY telah menugaskan Wapres Boediono dan kementerian ekonomi untuk membahas kenaikan harga jual gas 12kg.

"Presiden menelepon Wapres & Menko Perekonomian agar memanggil Dirut PT Pertamina terkait kenaikan gas elpiji 12kg serta menjelaskan pd masy," tulis Presiden SBY, dalam akun Twitter @SBYudhoyono.

Perusahaan negara pemegang monopoli produksi minyak dan gas, Pertamina, memutuskan menaikkan harga jual gas 12kg dari Rp5.850 per kilo naik menjadi Rp 9.809 per kilo, mulai Kamis (02/01) kemarin.

Image caption Kenaikan harga jual gas12kg dikeluhkan masyarakat karena dianggap terlalu tinggi kenaikannya.

Dengan kenaikan hingga hampir 70% sekarang ini, harga jual ke tangan konsumen akan mencapai Rp140.000 hingga Rp150.000.

Sampai bulan lalu, harga jual gas 12kg masih dijual antara Rp90.000-Rp100.000 per tabung hingga ke tangan konsumen di rata-rata tempat Jawa.

Kenaikan ini dikeluhkan oleh masyarakat yang menganggapnya terlalu tinggi, sehingga dianggap memberatkan.

Para pengamat memprediksi kenaikan ini akan membuat efek domino, yaitu berupap kenaikan harga-harga sebagai imbas kenaikan biaya operasional.

Berita terkait