Warga Indonesia mencoblos di London

Sekitar 2.000 warga Indonesia yang tinggal di Inggris Raya mendatangi tempat pemungutan suara di KBRI London, Sabtu 5 April 2014.

Image caption Anggota PPLN yang mengenakan batik menghadirkan suasana Indonesia di London.

TPS sudah dibuka sejak pukul 09.00 pagi waktu London dan akan ditutup pada pukul 18.00 dengan diramaikan beberapa warung Indonesia.

Para pemilih yang datang bisa juga menyantap ayam goreng, rendang, dan atau es buah di garasi kedutaan yang diubah menjadi tempat berjualan makanan.

Suasana di KBRI, dengan tiga TPS yang saling terpisah, serasa meriah dengan para anggota panitia mengenakan baju batik.

Seluruhnya terdapat 7.051 pemilih yang terdaftar di Inggris Raya dan sekitar 5.000 lebih memberikan suara lewat pos dengan batas waktu penerimaan ke PPLN pada 15 April.

Ketua Panitia Pemilihan Luar Negeri di Inggris, Masao Sinulingga, menjelaskan tantangan yang dihadapi dalam persiapan adalah pendataan pemilih karena sejumlah warga Indonesia yang pindah alamat namun tidak memberitahu pihak KBRI.

"Tapi kita menggunakan sosial media seperti Facebook untuk mendata dan efektif karena menyebar. Kalau situs internet orang harus aktif mengunjunginya maka dengan Facebook cepat sekali penyebarannya," jelasnya kepada wartawan BBC Indonesia, Liston Siregar.

Masao menambahkan penghitungan suara awal dilakukan Rabu 9 April untuk suara yang di TPS dan 15 April untuk suara lewat pos.

Laporan perhitungan suara akan segera dikirim ke Jakarta karena TPS di luar negeri masuk dalam wilayah pemilihan Jakarta.

Suasana kampung halaman

Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris Raya dan Republik Irlandia, Hamzah Thayeb, untuk pertama kalinya berada di tempat tugas di luar negeri saat pemilihan suara.

"Saya tidak bisa membandingkan dengan yang sebelumnya namun saya mendengar bahwa pemungutan suara di London kal ini lebih ramai."

Duta besar Thayeb mengatakan semangat untuk memberikan suara yang lebih tinggi di Inggris mungkin disebabkan bahwa pemilihan umum 2014 untuk sebuah perubahan mengigat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan menghabiskan masa jabatan dua periode.

"Pemilihan ini untuk generasi yang baru sehingga orang mungkin lebih bersemangat. Jadi pemilihan ini dengan semangat perubahan yang didasarkan pada prinsip-prinsip demokrasi," tambahnya.

Image caption Warung Indonesia meramaikan TPS yang didirikan di KBRI di London.

Bagi beberapa warga Indonesia, pemungutan suara sudah merupakan hal yang biasa, seperti yang dialami Teguh, yang sudah bekerja selama 14 tahun di London.

"Saya selalu ikut memilih, dan tahun ini juga. Selain memilih juga bertemu dengan teman-teman."

Dia merasa tidak ada yang lain dalam pemilihan umum 2014 dan pilihannya juga akan tetap sama.

Sementara itu Elshinta Suyoso-Marsden yang datang dari North Yorkshire, di Inggris tengah, harus menginap di London satu malam untuk memberikan suara.

"Seperti pulang kampung. Bukan hanya karena ada warung makanan tapi juga suasananya. Pengalamannya sama seperti memberikan suara di Indonesia," tuturnya.

Dan Elshinta menunjuk pada tas plastik yang akan dibawanya pulang ke North Yorkshire.

"Saya beli makanan Indonesia yang banyak," katanya sambil tertawa lepas.

Berita terkait