Jumlah golput pemilihan legislatif diperkirakan turun

Kertas suara Hak atas foto Getty
Image caption Sebagian pemilih terdorong menyalurkan suara karena faktor figur.

Jumlah pemilih yang tidak menggunakan suara dalam pemilihan legislatif pada Rabu (09/04) mengalami sedikit penurunan antara lain karena adanya harapan baru, hasil penghitungan cepat.

Berdasarkan hasil penghitungan cepat Indikator Politik, jumlah pemilih yang tidak menggunakan suaranya atau golput tercatat 27%.

Dengan demikian tingkat partisipasi pemilih kali ini mencapai 73% atau mengalami kenaikan 2% jika dibandingkan pemilu 2009 lalu.

"Tingkat kenaikan itu mungkin (karena) pada pemilu ini banyak kontroversi dan banyak pemilih yang terlibat secara emosional meskipun tidak radikal. Nah, itu yang membuat mereka lebih terlibat dengan peristiwa politik," kata Kuskridho Ambardi menjelaskan hasil penghitungan cepat Indikator Politik.

Sebagai contoh, lanjut Kuskridho, ada pemilih yang menentang pencalonan Gubernur DKI Joko Widodo dalam pemilihan presiden mendatang sehingga pemilih tersebut datang ke tempat pemungutan suara untuk memilih partai di luar PDI Perjuangan.

"Untuk Prabowo juga ada yang anti dan mereka mencoblos yang bukan partainya Prabowo. Isu-isu kontroversial itu membuat pemilih, terutama pemilih pemula, menjadi terlibat," jelas Kuskridho Ambardi.

Figur alternatif

Lembaga lain yang melakukan penghitungan cepat, Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), mencatat golongan putih dalam pemilu kali ini mencapai 26,56%.

Angka ini hampir sama dengan jumlah golput pada pemilu 2009, meskipun sebelumnya sejumlah pengamat memperkirakan jumlah golput tahun 2014 akan lebih tinggi.

Menurut Direktur riset SMRC Djayadi Hanan, kekecewaan politik terhadap para elite politik di pemerintahan dan parlemen yang diwujudkan dalam bentuk golput dibarengi dengan antusiasme publik tahun ini.

"Publik menganggap ada harapan baru dalam pemilu ini karena akan adanya pemerintahan baru. Di sisi lain, publik juga melihat, meskipun tidak banyak, ada sejumlah figur alternatif yang bisa diharapkan untuk menjadikan pemerintahan ke depan lebih baik dari sekarang," jelasnya.

Djayadi Hanan mencontohkan figur alternatif Jokowi yang dianggap peduli dan merakyat, dan Prabowo yang dianggap lebih tegas dibanding Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Hitung cepat yang dilakukan oleh sejumlah lembaga survei menempatkan PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu legislatif dengan persentase sekitar 19%.

Berita terkait