Konvensi Demokrat, apakah masih relevan?

  • 14 April 2014
demokrat, sby Image copyright AP
Image caption Partai Demokrat masih mengandalkan sosok SBY sebagai pendongkrak suara partai.

Anjloknya jumlah suara Partai Demokrat dalam pemilu legislatif membuat konvensi calon presiden tampaknya kehilangan relevansi.

Walau belum dibubarkan secara resmi, sejumlah pihak meminta konvensi dibatalkan dengan calon terkuat nantinya bisa disodorkan menjadi calon wakil presiden.

Berdasarkan hasil hitung cepat CSIS, Partai Demokrat hanya bertengger di peringkat lima dengan perolehan 9,4% suara.

Padahal pada pemilu legislatif 2009 lalu, partai ini berhasil memenangkan perolehan suara dengan angka lebih dari 20%.

Namun menurut Direktur Riset lembaga SMRC, Djayadi Hanan, konvensi belum tentu bubar jalan. Demokrat masih punya peluang untuk membentuk poros sendiri dengan berkoalisi dengan PKS dan PPP.

"Jadi Demokrat membentuk koalisi keempat selain PDIP, Golkar, dan Gerindra. Dengan demikian konvensi masih bisa menetapkan capres," katanya ketika dihubungi oleh wartawan BBC Indonesia, Christine Franciska.

Menurut Djayadi, inilah pilihan yang terlihat lebih 'elegan' bagi Demokrat dibandingkan harus membubarkan konvensi tengah jalan.

"Jadi meningkatkan bargaining power sehingga mengurangi kesempatan partai lain untuk menang. Misalnya Golkar kalau cuma sama Hanura repot juga kan karena elektabilitas capres mereka rendah."

Menunggu

Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR, Nurhayati Ali Assegaf, mengatakan secara resmi nasib konvensi masih akan ditentukan ketua umum.

"Kita menunggu strategi selanjutnya yang sedang disusun oleh ketua umum kami. Nanti yang akan mengumumkan bubar atau tidaknya adalah komite konvensi," katanya.

"Konvensi itu untuk capres, tidak ada dong kemungkinan berubah (menjadi konvensi cawapres). Tapi kan ini belum ada keputusan."

Sebelumnya ada sebelas nama yang mengikuti konvensi. Selain Ketua DPR RI, Marzuki Alie, ada pula rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan dan Menteri BUMN, Dahlan Iskan.

Dua peserta lain, Dino Pati Djalal dan Gita Wirjawan, bahkan mengundurkan diri dari jabatan sebagai duta besar dan menteri perdagangan untuk berkonsentrasi pada pemilihan umum kali ini.

Lainnya adalah Ali Masykur Musa, Endriartono Sutarto, Hayono Isman, Irman Gusman, Pramono Edhie Wibowo, dan Sinyo Harry Sarundajang.

Menurut Djayadi, menggantungnya nasib konvensi setelah hitung cepat mencerminkan sikap partai yang masih menunggu dan melihat perkembangan.

"Melihat-lihat dulu opsi yang mungkin. Memang masih agak menggantung, tapi menurut saya dilanjutkan saja. Kalau dibubarkan lebih tidak elegan bagi SBY," sambungnya.

Berita terkait