Mendulang suara berbekal popularitas

  • 21 April 2014
pemilu Image copyright Getty
Image caption Benarkah masyarakat cenderung memilih caleg populer?

Di tengah pleno penetapan hasil pemilu legislatif tingkat kabupaten dan kota, sejumlah calon legislatif sudah mendapat titik terang akan nasib mereka.

Caleg Partai Amanat Nasional, Anang Hermansyah, yang maju di dapil IV Jawa Timur, misalnya meraih suara berar dan akan melenggang ke Senayan.

Wakil Ketua Umum PAN, Drajad Wibowo, menyambut gembira hasil yang diperoleh musisi itu.

"Kita tahu Jawa Timur itu, terutama daerah Tapal Kuda, itu daerah yang kering, dalam arti berkali-kali pemilu kami belum pernah mendapatkan perwakilan di sana dan calon-calon yang dulu kita tempatkan berlatar belakang akademisi, Muhammadiyah, tak ada yang tembus," kata Drajad kepada Pinta Karana dari BBC Indonesia.

"Kalau pakai tolak ukur akademis, orang pasti akan mempertanyakan mengenai Mas Anang tapi menurut saya profesionalitas dia tak kalah dengan profesor misalnya, ia orang yang sangat memahami dunianya," tambahnya.

Peruntungan Anang berbanding terbalik dengan caleg petahana dari PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, yang hanya pasrah kalau memang gagal kembali ke Senayan.

Perolehan suaranya hanya 43.000 jauh di bawah target 60.000 suara.

"Saya kerja sejak lama, ketika beberapa caleg belum turun. Saya sudah turun karena sejak awal saya ingin melawan politik uang alias amplop. Saya sengaja tak pakai amplop, tapi ternyata caleg-caleg yang turun di saat terakhir dan membagi duit, ternyata lebih efektif," kata Eva.

Kualitas pemilu

Namun Eva mengaku ikhlas dan bangga karena berhasil mendulang banyak suara tanpa transaksi amplop.

"Ini realitas bagi saya karena banyak yang suka instan ternyata, tanpa harus kerja, tanpa harus turun ke lapangan, dapat suara banyak."

Menanggapi fenomena ini, pengamat dari Parliament Watch Sebastian Salang mengatakan ini menunjukkan kualitas pemilu tahun ini

"Faktor yang membuat orang memilih, nomor satu popularitas dan nomor dua kekuatan uang. Pemilu 2014 ini sangat mengkhawatirkan karena orang memilih karena faktor kekuatan uangnya, dan popularitas juga harus didukung uang," kata Sebastian.

Ia mengakui hal itu tentu berdampak tidak menguntungkan pada caleg bersih yang menggunakan cara-cara ideal untuk menang.

"Mereka mencoba untuk mengembangkan politik tanpa politik uang, artinya kalau sudah bekerja maksimal untuk masyarakat ada apresiasi tapi faktanya di lapangan, apa yang mereka lakukan kalah dengan orang yang menggunakan kekuatan finansial, kalau dengar pengakuan Eva misalnya itu menunjukkan hal yang sama, bahwa dia kalah dengan itu (politik uang)," imbuh Sebastian.

Meski demikian, ia mengingatkan ada caleg artis yang kemudian terbukti bisa bekerja untuk rakyat.

"Rieke Dyah Pitaloka dan Nurul Arifin itu bagus, tapi kan banyak juga yang tidak terlihat," katanya.

Berita terkait