MERS merebak, keberangkatan umrah meningkat

mers Hak atas foto AFP

Merebaknya virus sindrom pernafasan Timur Tengah atau MERS CoV di Arab Saudi tidak meredakan minat umat Muslim Indonesia untuk menunaikan ibadah umrah, kata pengurus Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH).

Untuk mengantisipasi adanya jemaah umrah atau haji yang jatuh sakit saat berada di Arab Saudi, semua penyelenggara diwajibkan menyediakan pendamping asal Indonesia yang bisa berbahasa Arab untuk membantu komunikasi pasien di rumah sakit.

"Jumlah keberangkatan umrah mengalami kenaikan, khususnya sekarang yang sudah masuk bulan Rajab dan tiga bulan ke depan adalah bulan-bulan yang dianggap baik yaitu Rajab, Syaban dan Ramadan," kata Muharram Ahmad, ketua HIMPUH.

Sebagian besar jemaah yang sudah merencanakan keberangkatan mereka tetap berangkat, kata Muharram.

"Ada satu dua jemaah yang mempertimbangkan apakah berangkatnya bulan ini atau bulan depan, tapi tidak membatalkan," tambahnya.

Saat ini seorang jemaah umrah asal Makassar, Sulawesi Selatan, positif terinfeksi MERS dan dirawat di RS King Fahd, Arab Saudi. Kondisinya sudah berangsur membaik meski belum diizinkan pulang.

"Kalau ada jemaah yang sakit di RS Saudi, penyelenggara wajib memberikan pendampingan oleh seorang guide, yang merupakan WNI tapi sudah bermukim di sana untuk menghindari kendala bahasa," kata Muharram.

Tur unta dihapus

Seluk beluk virus MERS belum banyak diketahui. Peneliti WHO masih berusaha mempelajari cara penyebaran dan penanggulangannya.

Ada dugaan virus ini berasal dari unta dan pemerintah Saudi serta WHO menghimbau semua kalangan untuk tidak bersentuhan dengan unta.

Muharram Ahmad mengatakan HIMPUH pun sejak dua pekan lalu sudah meminta semua penyelenggara umrah dan haji untuk mematuhi himbauan itu.

"Kalau di Bukit Arafah, unta yang berfoto dan dinaiki sejak awal tahun sudah tidak ada dan peternakan unta yang sering disinggahi jemaah di Hudaibiyah pun sudah dihimbau untuk tidak dikunjungi," kata Muharram.

Sejak virus MERS berjangkit dan menginfeksi lebih dari 450 orang di Saudi, pemerintah setempat mengakomodir kebutuhan kesehatan jutaan jemaah umrah dan haji dari seluruh dunia, antara lain dengan menyediakan pemeriksaan gratis di semua rumah sakit.

Beberapa negara, diantaranya Filipina, mewajibkan warga negaranya yang hendak kembali ke Filipina dari Saudi untuk melakukan pemeriksaan medis dan memastikan mereka tidak terinfeksi MERS.

Wakil Menteri Kesehatan Ali Gufron Mukti dalam wawancara dengan BBC Indonesia mengatakan akan mengupayakan hal serupa.

Berita terkait