Kondisi WNI terinfeksi MERS di Saudi stabil

MERS Hak atas foto AFP
Image caption Pasien MERS asal Indonesia dirawat di RS King Fahd, Jeddah

Kondisi jemaah umrah asal Makassar, Sulawesi Selatan, yang terinfeksi virus Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) di Arab Saudi sudah stabil, kata Wakil Menteri Kesehatan Ali Gufron Mukti.

Alat pemindai suhu tubuh dipasang di bandara dan pelabuhan tapi belum ada rencana persiapan karantina, untuk mencegah kepanikan warga.

"Yang bersangkutan diberikan tata laksana [penanganan MERS] di rumah sakit dan kita bergembira karena hasilnya sekarang stabil," kata Ali kepada Pinta Karana dari BBC Indonesia.

Menurut Ali, sebelum dibawa ke RS King Fahd di Jeddah, jemaah berusia 84 tahun itu, mengalami batuk, pilek serta gangguan pernafasan.

"Kemudian kondisinya memburuk sehingga ia tidak ikut pulang dengan rombongannya ke Makassar dan dibawa ke RS," tambahnya.

Pasien masih menjalani observasi dan belum diperbolehkan pulang.

Image caption Menag [kiri], Menko Kesra dan Menkes dalam jumpa pers soal MERS (05/05)

Antisipasi

Sejumlah pasien terduga MERS saat ini masih dirawat di RS beberapa provinsi, termasuk RSUP Dr M Djamil di Padang, Sumatra Barat serta RS Abdul Razak Sulawesi Tenggara.

Dua pasien di Padang dan tiga pasien di Sultra mengalami gejala-gejala flu dan gangguan pernafasan setelah kembali dari Arab Saudi.

Menurut Ali Gufron Mukti, hingga saat ini status para pasien belum berubah masih terduga.

"Dari yang tadi diduga mengidap atau terkena Corona MERS sampai sekarang statement yang kami terima di Kemenkes hasilnya masih negatif dan tentu kita waspada, tidak boleh sembrono karena masyarakat tidak perlu panik," kata dia.

Sebagai antisipasi, pemerintah memasang pemindai suhu tubuh dan mempersiapkan klinik di bandara dan pelabuhan.

"Tetapi tidak ke arah karantina dan jika ada gejala-gejala yang mengarah ke sana [MERS] akan dilakukan penanganan secara khusus, kalau perlu dirujuk khusus kemudian diisolasi dan akan dilakukan penanganan seperti flu burung," imbuhnya.

Mengingat banyaknya warga negara Indonesia yang bepergian ke Arab Saudi baik untuk ibadah mau pun bekerja, pemerintah juga berkoordinasi dengan KJRI di Arab Saudi untuk melakukan sosialisasi terhadap TKI di sana serta calon jemaah umrah.

Dinas Kesehatan di daerah-daerah juga menyebarkan informasi melalui radio, leaflet dan surat edaran untuk masyarakat atau keluarga TKI dan jemaah yang tinggal di pelosok Indonesia.

Berita terkait