Jokowi pilih JK, suara Golkar terpecah

Hak atas foto AP
Image caption Suara Golkar akan terpecah setelah Jokowi menggandeng Jusuf Kalla sebagai cawapres.

Dukungan resmi Partai Golkar terhadap pasangan capres Prabowo Subianto dan cawapres Hatta Radjasa, tidak otomatis membuat massa Golkar akan mendukung pasangan itu, demikian penilaian pengamat.

Diperkirakan suara pendukung Golkar akan terpecah setelah Capres Joko Widodo memilih seorang tokoh senior Partai Golkar, Jusuf Kalla, sebagai calon wakil presidennya, Senin (19/05).

"Jadi ketika Jusuf Kalla diambil Jokowi sebagai cawapresnya, tentu suara Golkar akan pecah," kata pengamat politik dari Universitas Nasional, Jakarta, Alfan Alfian, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Senin (19/05) malam.

Menurut Alfan, suara Partai Golkar akan terpecah karena pemilu presiden kali ini bertumpu pada kekuatan figur.

Namun demikian, lanjutnya, suara Golkar yang 'membelot' ke Jusuf Kalla dapat ditekan apabila para tokoh senior Partai Golkar yang disegani dapat 'dirangkul' oleh Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie.

"Seandainya ada tokoh-tokoh di luar Yusuf Kalla, itu bersatu mendukung kubu Prabowo-Hatta, maka saya kira, (suara) yang akan terambil dari pasangan Jokowi-Jusuf Kalla, itu tidak sesignifikan yang dibayangkan," kata Alfan.

Hak atas foto AP
Image caption Dukungan Golkar terhadap capres Prabowo-Hatta tidak otomatis diikuti massa partai itu di daerah.

Dia kemudian menyebut tokoh senior Golkar seperti Akbar Tandjung atau Ginandjar Kartasasmita yang rujukannya masih didengar pendukung Golkar.

Efektifkah mesin partai?

Partai Golkar dalam pemilu legislatif 2014 meraup 14,75% suara atau 16,3% kursi parlemen dan berada di posisi kedua di bawah PDI Perjuangan.

Perolehan suara Golkar yang cukup besar itu membuat mereka dianggap akan menjadi faktor penting untuk meraup suara dalam pemilu presiden Juli 2014 nanti.

"Golkar mungkin datangnya di pengujung, tapi Golkar akhirnya menjadi kingmaker. Golkar menjadi penentu masa depan bangsa Indonesia,” kata capres Prabowo Subianto dalam acara deklarasi dirinya dan Hatta Radjasa sebagai pasangan capres-cawapres, Senin siang.

Pernyataan Prabowo itu agaknya merujuk kepada mesin politik Partai Golkar yang dianggapnya akan mendongkrak dukungan suara terhadap dirinya.

Namun demikian, Alfan Alfian kurang sependapat jika dikatakan mesin politik partai berlambang pohon beringin itu bakal berjalan efektif dalam pilpres nanti.

"Karena pilpres itu urusan elit partai di tingkat pusat, maka elit tingkat lokal tidak begitu optimal menjalankan instruksi dari pusat, kecuali ada 'logistik' yang jelas."

Seperti diketahui, 'logistik' merupakan istilah pendanaan atau keuangan yang banyak digunakan dalam dunia politik praktis di Indonesia.

Hak atas foto AFP
Image caption Mesin politik Golkar sulit berjalan efektif karena pilpres 2014 lebih bertumpu pada figur.

Alfan juga tidak sependapat apabila ada anggapan perolehan suara Golkar pada pemilu legislatif lalu cukup besar, karena mesin partainya bekerja secara optimal.

"Saya kira institusi Golkar tidak begitu efektif. Institusi partai tenggelam dalam fungsinya sebagai organ pemenangan pemilu, karena caleg bergerak sendiri-sendiri."

Lagipula, lanjutnya, koalisi yang dilakukan partai-partai dalam pilpres ini yang kebanyakan tidak didasarkan kesamaan ideologi, menyebabkan mesin politik sulit bekerja secara optimal.

Berita terkait