Bank Indonesia tahan suku bunga acuan

  • 12 Juni 2014
rupiah Image copyright REUTERS
Image caption BI mengatakan stabilitas sistem keuangan "tetap terjaga dengan baik".

Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 7,5% untuk menjaga level inflasi dikisaran 3,5% hingga 5,5% dan menurunkan defisit neraca perdagangan.

Dalam keterangan persnya, Direktur Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan "proses penyesuaian ekonomi berjalan cukup baik" walau rupiah kini cukup tertekan dikisaran Rp11.800 per dolar.

Seperti diketahui pada April tahun ini neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,96 miliar dolar AS, disebabakan oleh penurunan ekspor nonmigas berbasis sumber daya alam.

Ekonom dari Universitas Atmajaya Jakarta, Prasetyantoko, mengatakan memang belum ada cukup alasan untuk mengubah acuan suku bunga saat ini.

"Ekspektasi pasar minta naik, tetapi pelaku usaha riil minta turun. Sedangkan tidak mungkin turun dan tidak ada cukup alasan juga untuk dinaikkan sekarang," katanya.

Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter Yudha Agung mengatakan suku bunga acuan yang tetap ini dibuat karena mereka "melihat ada risiko global dan domestik."

"Seperti diketahui, defisit neraca transaksi berjalan adalah masalah utama," katanya seperti dilansir Reuters.

Dampak positif pilpres

Setelah keputusan ini, rupiah tampak menguat tipis Rp11.790 per dolar, namun level ini masih tinggi dibandingkan pertengahan Mei yang sempat menyentuk level Rp11.400.

Kepala Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, mengatakan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini masih cukup wajar dan berada dalam titik keseimbangan baru.

Image copyright bank indonesia

Tahun ini, kata David, Indonesia sebetulnya cukup diuntungkan dengan euforia investor menjelang pemilihan presiden yang ternyata membawa dampak positif di pasar modal dan kurs.

"Fundamental ekonomi tidak ada perubahan berarti. Tetapi menjelang pilpres ada harapan investor akan harapan yang lebih baik dan yang terpilih juga program ekonominya bagus.

"Jadi investor banyak yang masuk duluan. Ini jelas mempengaruhi kurs dan pasar saham. Kurs kita tidak akan sekuat sekarang kalau tidak ada masuk portofolio yang sudah lebih dari US$11 miliar."

Walau sejumlah media melansir bahwa pasangan Jokowi JK cukup difavoritkan oleh pelaku pasar, sejumlah pengamat mengatakan pelaku pasar sebetulnya tidak dalam posisi mendukung capres tertentu.

Prasetyantoko mengatakan siapapun presiden terpilih nanti, investor akan tetap melihat pelaksanaan kebijakan ekonomi untuk dapat mengambil keputusan hengkang atau bertahan.

Berita terkait