Jakarta, tambah tua tak juga bijaksana

  • 21 Juni 2014
trotoar
Image caption Kemacetan membuat banyak warga memilih sepeda motor

Kota Jakarta pada hari Sabtu 21 Juni 2014 merayakan ulang tahun yang ke-487 namun sejumlah persoalan masih terus merundung ibukota negara ini.

Sekilas Jakarta tampak seperti metropolis yang lengkap dan memikat tapi keluh kesah warga mulai dari banjir, fasilitas umum yang kurang hingga jalan macet menjadi bahan perbincangan sehari-hari warga baik lisan mau pun melalui curahan hati di media sosial.

"Jumat sore sampai malam pasti macet ga' kenal ampun di mana-mana apalagi kalau hujan, mending nongkrong dulu di kantor atau ke mal," kata Adinda seorang warga Kampung Melayu, Jakarta Timur, yang berkantor di kawasan Salemba Raya Jakarta Pusat.

Peran Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan juga pusat bisnis membuat kota berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa ini menanggung beban berat.

“Akhirnya orang-orang dari seluruh Indonesia mau sekolah, kerja sampai berobat pun datangnya ke Jakarta,” kata pengamat tata kota, Nirwono Joga.

Image caption Banjir juga sempat merendam jantung kota Jakarta

Hal itu dirasakan oleh Salim, seorang warga Grogol yang setiap tahun berjuang melawan banjir.

“Air sampai ke atap rumah,” kata Salim. Ia mempertimbangkan untuk memboyong keluarganya pindah ke Depok atau Bogor.

“Tapi kantor saya dan sekolah anak-anak saya di daerah sini-sini juga, kalau pindah belum tentu dapat sekolah yang cocok lagi,” tambahnya.

Menurut Nirwono, salah satu kesalahan pembangunan Jakarta hampir dari 50 tahun terakhir ini adalah karena pembangunan masih dalam orientasi proyek, artinya masih dilakukan sepihak oleh pemerintah provinsi, tanpa partisipasi masyarakat secara aktif.

“Jadi dalam menyelesaikan masalah-masalah hidup di Jakarta, warga menyelesaikan sendiri masalahnya. Misalnya, karena macet yang tak berkesudahan dan transportasi umum tak bisa diandalkan akhirnya mendorong warga untuk membeli sendiri sepeda motor, tanpa memikirkan yang lain masalahnya yang berpikir seperti ini jutaan jumlahnya, akibatnya mereka justru berkontribusi pada kemacetan itu,” kata Nirwono.

Image copyright 1
Image caption Sampah menumpuk di pintu air Manggarai

Perda tak efektif

Berbagai Peraturan Daerah (Perda) yang dibuat pemerintah DKI untuk mengatur warganya seperti Perda Sampah juga dianggap tidak efektif untuk membuat kota ini teratur.

“Tidak ada kesadaran sendiri dari warganya untuk mengurangi sampah misalnya dan yang kedua tak ada upaya untuk mencegah arus urbanisasi yang besar akibat tidak meratanya pembangunan,” kata Nirwono.

Pemprov DKI juga tidak mempersiapkan antisipasi pertumbuhan jumlah penduduk yang akan berkembang pesat.

“Ada tiga hal yang harus dipersiapkan jangka panjang yaitu ketersediaan tempat tinggal, ketersediaan air bersih dan transportasi massal berkelanjutan,” kata Nirwono.

Image caption Infrastruktur dan transportasi tidak memadai banyak dikeluhkan warga

Kualitas hidup

Pelayanan transportasi yang tidak bisa diandalkan memaksa banyak orang mengalokasikan waktu beberapa jam hanya untuk perjalanan rumah ke kantor pulang pergi.

“Saya berangkat dari rumah jam 05:00 WIB dan baru sampai rumah lagi sekitar jam 20:00 WIB,” kata Saraswaty seorang pegawai di Menteng, Jakarta Pusat yang menetap di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Akibatnya ia merasa kekurangan waktu bersama keluarga.

“Istilahnya baru ketemu anak Sabtu-Minggu dan itu masih ditambah dilema antara ingin tidur seharian atau menebus waktu dengan anak,” tambahnya.

Hilangnya waktu dengan keluarga menurut pengamat kebijakan publik, Yayat Supriyatna, adalah satu indikasi menurunnya kualitas hidup.

“Yang menjadi persoalan dasar Jakarta adalah kualitas hidup, khususnya kualitas dalam membangun sistem kehidupan sosial baik dalam rumah tangga mau pun masyarakat kaena warga Jakarta banyak kehilangan momentum ketika sistem pelayanan publiknya tidak berjalan maksimal,” kata Yayat.

“Jakarta gagal transformasi menuju kota yang modern dan efisien. Jakarta gagal membangun infrastruktur yang mendukung kebutuhan masyarakatnya yang terus bertambah,” imbuhnya.

Meski masih jauh dari sempurna, penduduk Jakarta tetap memanjatkan harapan untuk kota mereka.

“Buat Jakarta, buat Pak Ahok [PLT Gubernur DKI Jakarta] juga, malu sama umur dong masa udah uzur ratusan tahun masih begini-begini aja,” kata Saras sebelum naik ke Kopaja yang membawanya pulang.

Ah, Jakarta... Semoga kelak ibukota Indonesia bisa lebih bijaksana seiring bertambahnya usia.

Berita terkait