Video Dhani 'nodai' citra Indonesia di Jerman

  • 28 Juni 2014
Ahmad Dhani Image copyright AFP
Image caption Musisi Ahmad Dhani mendukung capres Prabowo Subianto di pilpres 2014.

Reaksi video kampanye Ahmad Dhani yang mengenakan baju mirip seragam Nazi masih mendapat reaksi di Jerman.

Pengamat masalah Indonesia asal Jerman, Berthold Damshauser, mengatakan setelah video ini diangkat oleh majalah Spiegel edisi online, kini koran terbesar di Jerman, Bild, juga memberi komentar.

"Koran itu menggambarkan Indonesia sebagai negara di mana tidak terdapat pemahaman terhadap sejarah Eropa termasuk fasisme. Banyak media Jerman lain turut mengeluhkan hal itu," kata Damshauser, hari Jumat (27/06).

Dhani mengenakan kostum ala seragam Nazi dalam video yang dipakai untuk menggalang dukungan bagi capres Prabowo Subianto.

Kaitan video ini dengan Prabowo, kata Damshauser, dipertanyakan oleh situs news.de yang menulis, "Memakai seragam SS Himmler (Prabowo) mau menjadi kepala negara."

Melihat reaksi dalam beberapa hari belakangan Damshauser mengatakan bahwa video ini sudah mencemarkan nama baik Indonesia di mata masyarakat Jerman.

Aspek internasional

"Sedangkan diskusi tentang Prabowo yang lebih objektif pun semakin ramai, misalnya yang mempertanyakan apakah Prabowo merupakan ancaman bagi pluralisme di Indonesia," kata Damshauser.

Disorot juga kaitan Prabowo dengan kelompok Islam radikal dan perannya di masa Orde Baru.

"Semua ini pada dasarnya berpotensi menjadi beban bagi pemerintah yang dipimpin Prabowo, juga berpotensi untuk menjadi beban dalam hubungan dengan dunia internasional," katanya.

Kubu Prabowo sendiri sudah mengeluarkan penjelasan di seputar video tersebut.

Juru bicara tim Prabowo, Sudrajat, mengatakan kostum musisi Ahmad Dhani merupakan ekspresi seni semata.

"Kita harus melihatnya dari ranah seni, jangan dari ranah yang lain," kata Sudrajat.

Mantan perwira tinggi ini lebih lanjut mengatakan, penampilan Dhani mengenakan kostum tersebut tidak berarti pihaknya mendukung ideologi dan tindakan Nazi selama Perang Dunia II.

"Itu cuma dekorasi saja," kata Sudrajat.

Berita terkait