Harapan umat Syiah yang masih jauh

  • 8 Juli 2014
Sidoarjo Hak atas foto BBC World Service
Image caption Warga Syiah di pengungsian belum menentukan pilihannya dalam pilpres 2014.

Malam itu, di rumah susun Puspo Agro di Sidoarjo, pinggiran Surabaya, beberapa remaja dengan mengenakan sarung dan kopiah terlihat berjalan menuju masjid persis di sebelah kompleks rumah susun.

Beberapa orang tua duduk ngobrol di lantai, ada yang bersarung dan berkopiah, sambil minum kopi dan merokok, didampingi kaum ibu yang mengenakan sarung.

Mereka adalah umat Islam, yang bersantai selepas berbuka puasa dan sebagian bersiap untuk salat malam.

Namun bagi sejumlah orang -khususnya warga Sampang di Madura dan juga lembaga negara- para pengikut ajaran Syiah tersebut bukan umat Islam.

Rumah mereka di Sampang dibakar pada pertengahan 2012 lalu dan pemimpinnya, Tajul Muluk, sudah diganjar hukuman penjara empat tahun dengan dakwaan pencemaran agama.

Dan pengungsian mereka di rumah susun Puspo Agro sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Harapan dan kenyataan

Roha mengatakan pernah mencoba pulang ke Sampang namun hanya lima hari saja karena keluarga yang bersedia menampung dia di sana mendapat tekanan.

Dia juga merasa tidak nyaman lagi di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Sampang.

Sedang Nurcholis bahkan cuma bertahan satu hari saja karena dengan tegas diminta untuk meninggalkan kampungnya sebab menolak untuk meninggalkan ajaran agama yang diyakininya.

Dan baik Roha maupun Nurcholis tetap berharap suatu hari kelak bisa pulang.

"Saya punya harapan untuk pulang kembali ke Sampang. Saya memiih yang bisa tegas, memilih yang bisa kami kembali ke rumah, terus bisa diperhatikan lagi," jelas Roha.

Namun Roha belum yakin betul siapa pilihannya kelak dalam pemilihan presiden 9 Juli, yang bisa menjamin dia, keluarga, dan teman-temannya bisa pulang kembali ke kampung halaman.

Sementara Nurcholis mengaku harapan mereka untuk pulang masih jauh dan memastikan mereka untuk kedua kalinya merayakan lebaran di tempat pengungsian.

"Saya belum melihat ketegasan terhadap masalah kami," tuturnya.

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Pengungsi Syiah dipastikan akan merayakan lebaran yang kedua jauh dari kampung halaman.

Itu pula yang membuat dia belum memutuskan pilihan di kotak suara saat pemilihan nanti.

"Belum ada satu pun calon presiden yang datang ke sini dan belum ada yang menyinggung Syiah dalam kampanyenya, jadi saya belum tahu mau memilih siapa."

Kebhinekaan Indonesia

Koordinator pengungsi Syiah asal Sampang di Sidoarjo, Iklil, menjelaskan bahwa perhatian untuk pemenuhan kebutuah atas mereka sebenarnya sudah cukup baik.

"Tapi bukan itu yang kami harapkan karena keinginan kami adalah hidup damai di kampung halaman kami."

Iklil yakin bahwa yang terjadi sebenarnya adalah kesalahpahaman yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu karena pada tingkat sesama warga tidak ada masalah.

"Terlepas apa pun, agama melarang permusuhan serta perselisihan dan konstitusi negara juga sudah menjamin kebebasan beragama. Kejadian Sampang itu adalah banyak kepentingan yang bermain di sana, politik juga."

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Iklil berpendapat masalah yang dihadapi umat Syiah Sampang diwarnai berbagai kepentingan.

Dan walau kecil, dia tetap berharap presiden mendatang bisa membuka peluang bagi penyelesaian masalah yang mereka hadapi.

"Harapan saya dalam pemilihan presiden ini adalah nanti siapa pun yang terpilih maka kebhinekaan bangsa ini harus dipertahankan."

Tidak 'bisa ditawar'

Vonis empat tahun penjara atas pimpinan umat Syiah di Sampang, Tajul Muluk, dikecam oleh beberapa lenbaga hak asasi manusia namun disambut baik oleh para pemuka agama di Sampang.

Ketua MUI Sampang, KH Buchori Maksum, menegaskan bahwa dari segi teologi harus ada ketegasan dari pemerintah untuk mencegah konflik Sampang yang kedua.

"Jadi masalah Syiah itu mereka di Sampang sudah melanggar dua unsur, dari segi undang-undang positif dan dari segi teologi agama, Quran dan Hadits dilanggar."

KH Buchori menambahkan bahwa masyarakat di Sampang bukan antirekonsiliasi.

"Kalau aktornya sudah divonis salah maka pengikutnya kalau ingin kembali ke Sampang harus kembali ke ajaran semula. Itu sederhana."

Pandangan senada disampaikan oleh KH Syafiuddin Abdul Wahid, Rois Syuriah NU Sampang, yang aktif dalam upaya rekonsiliasi selama ini.

"Saya berbicara dengan tokoh-tokoh Syiah dan kalau ajaran Tajul Muluk itu dikatakan Syiah itu termasuk aneh. Kalau Syiah itu biasanya tidak seperti Tajul, agresif. Kalau Syiah yang lain itu pelan-pelan, berdampingan dengan masyarakat yang lain. Tapi kalau Tajul yang ini aneh."

Jadi sumber masalahnya, menurut KH Syafiuddin, bukan karena pengungsi di Sidoarjo menganut Syiah tapi karena mengikuti pemimpin yang dinilai menodai ajaran Islam.

"Di Pamekasan ada Syiah, di Sumenep ada tapi tidak konflik dengan masyarakat namun berdampingan damai karena tidak mengganggu dan tidak menodai agama."

Mungkin saja yang dikatakan Iklil sebelumnya benar, bahwa telah terjadi kesalahpahaman namun jurang perbedaannya masih amat jauh.

Berita terkait