Bayangan Suharto di Pemilu Presiden 2014

  • 8 Juli 2014
suharto
Sebagian orang Indonesia muak dengan demokrasi dan merindukan Suharto

Selama lebih dari satu dekade, Indonesia menikmati demokrasi yang aktif. Namun, tatkala jutaan orang siap memilih pada pemilihan presiden 9 Juli, kenangan akan Suharto bakal kembali mencuat.

Ratusan pengunjung setiap hari mendatangi Museum Suharto di Solo, Jawa Tengah, sebagai bentuk penghormatan mereka untuk sang mantan presiden yang memimpin Indonesia selama 32 tahun.

Bahkan, di kampung halamannya, di Desa Kemusuk, Suharto masih dianggap bak manusia setengah dewa.

"Ini adalah air yang sama dengan yang diminum Suharto saat kanak-kanak," kata penjaga museum, Gatot Nugroho, seraya menunjukkan sebuah sumur batu.

"Kami percaya kalau Anda mencuci tangan dengan air ini dan berdoa, Allah akan mengabulkan apa pun keinginan Anda.

"Sebesar itulah keyakinan kami kepada Suharto."

Demokrasi Indonesia dinamis dan hidup

Suparni dan Tugiyat berjualan kaos bergambar wajah Suharto dengan slogan bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia berarti, "Lebih enak di jamanku, kan?"

Apakah memang saat itu lebih baik, saya bertanya kepada diri saya sendiri yang tumbuh ketika Suharto berkuasa.

Saya mengingat hari-hari Orde Baru dengan jelas.

Majalah Time dan Far Eastern Economic Review kerap diantar ke rumah kami dengan halaman-halaman majalahnya tertutup tinta hitam.

Paragraf-paragraf yang dianggap menghina Suharto ditutup dari pandangan.

Prabowo Subianto, mantan jenderal di era Suharto, merapat ke kursi kepresidenan

Tapi untuk Suparni dan Tugiyat masa itu menandai periode yang lebih sederhana.

"Kami punya makanan di meja dan kami bisa mendapat pekerjaan," kata Suparni.

"Pak Harto [sebutan untuk Suharto] mengurus kami...Ia adalah pemimpin yang tegas."

Kepresidenan yang 'tak terbayangkan'

Setelah 16 tahun menikmati demokrasi yang rumit dan kadang berantakan, sejumlah orang Indonesia berusaha mencari jalan keluar.

Masuklah Prabowo Subianto, mantan menantu Suharto dan mantan Pangkostrad.

Prabowo dipecat dari jabatannya pada 1998 tapi tidak pernah diadili.

Prabowo dipecat dari militer pada 1998 tapi tak pernah diadili

Subianto mengeksploitasi hubungannya dengan Suharto dan mengenakan setelan safari serta kopiah hitam khas Suharto.

Banyak orang Indonesia yang tertarik dengan pidatonya yang lugas dan nasionalis. Dia sering menuduh orang asing mencuri sumber daya alam Indonesia.

Tapi jalan Prabowo ke kursi kepresidenan dicemari oleh kontroversi.

Ia punya catatan hak asasi manusia yang ternoda, setelah dipecat dari Angkatan Darat karena perannya dalam penculikan aktivis mahasiswa pada 1998.

Raharja Jati adalah satu dari puluhan aktivis anti-Suharto yang diculik dan disiksa oleh Kopasus yang saat itu dipimpin oleh Prabowo.

Baginya, jika Prabowo menjadi presiden, hal itu akan menjadi sesuatu yang tidak terbayangkan.

"Mereka tidak mengijinkan saya tidur, mereka menyetrum saya, dan memukuli saya berkali-kali," kata dia.

Mereka memaksa saya tidur di atas balok es selama berjam-jam. Tapi yang saya tidak akan pernah lupakan adalah bagaimana mereka menginjak wajah saya dengan sepatu lars militer. Saya tidak akan pernah melupakannya."

Jati yakin Prabowo tidak dapat berubah.

"Ia tidak pernah dimintai pertanggungjawaban, tidak ada seorang pun yang menghukumnya atas apa yang telah ia lakukan," kata dia.

"Saya khawatir ia akan membawa Indonesia yang demokratis kembali ke era diktator."

Prabowo berkeras ia tidak akan membungkam demokrasi Indonesia. Bahkan ia menegaskan ingin membasmi korupsi dan memperkuat hukum serta ketertiban.

Anak baru politik?

Rival Prabowo dalam Pilpres ini adalah Joko Widodo atau dikenal dengan Jokowi, seorang eksportir mebel dengan awal yang sederhana.

Joko Widodo populer tapi ia dikritik sebagai anak baru

Joko Widodo menikmati status sebagai rocker bagi banyak kalangan orang Indonesia. Ia populer bagi banyak orang miskin di Indonesia.

Namun, sejumlah kritikus menyebut dia sebagai anak baru politik dan tidak tahu bagaimana menjalankan negara.

"Jokowi adalah aset bagi Jakarta, tapi ia harus fokus mengelola kota ini," kata Sandiaga Uno, juru bicara tim sukses Prabowo.

Ia merujuk pada posisi Jokowi saat ini sebagai gubernur nonaktif Jakarta.

"Prabowo Subianto adalah pemimpin yang tegas dan visinya untuk Indonesia akan mengembangkan ekonomi dan posisi kita di mata internasional."

Sepertiga dari keseluruhan pemilih yang akan memberikan hak suara mereka pada 9 Juli adalah pemilih pemula.

Mereka adalah anak-anak Indonesia era modern. Mereka tidak ingat hari-hari kediktatoran dan tumbuh dewasa di alam demokrasi.

Kaum muda tersebut menjadi bagian demografi yang merupakan pendukung terkuat Prabowo, anak-anak muda Indonesia yang haus akan kepemimpinan tegas dan menginginkan presiden yang bisa mewakili Indonesia di panggung internasional.

Tapi banyak yang menyuarakan keprihatinan bahwa Prabowo justru akan mengakhiri demokrasi Indonesia.

'Bapak bangsa'

Untuk pertama kalinya dalam 31 tahun sejarahnya, harian berbahasa Inggris Jakarta Post mendukung seorang kandidat dalam pilpres Indonesia, Joko Widodo. Sebaliknya, harian itu merilis ulasan tajam untuk Prabowo.

"Dalam pemilu yang istimewa ini, kami tidak bisa hanya duduk di pagar ketika alternatifnya terlalu mengkhawatirkan," tulis Jakarta Post di editorialnya.

"Seorang pria yang telah mengakui menculik aktivis hak asasi manusia tidak punya tempat di pucuk kepemimpinan demokrasi terbesar ketiga di dunia."

Sementara itu di Museum Suharto, sekelompok anak kecil dibimbing memasuki museum oleh ayah mereka, yang menunjukkan foto mantan diktator itu di dinding.

"Ini adalah Presiden Suharto," kata sang ayah. Dia lalu meminta anak-anaknya mengulangi nama sang jenderal berkali-kali.

"Ia adalah bapak bangsa kita. Kita tidak boleh melupakannya."

Berita terkait