Terus disampaikan seruan pembatalan eksekusi

Keluarga Rodrigo Gularte Hak atas foto AFP
Image caption Keluarga Rodrigo Gularte, salah seorang terpidana yang diakui mengidap ganggaun jiwa.

Menjelang proses eksekusi mati para terpidana kasus narkoba, para keluarga, hingga Selasa (28/04) terus mendesak pemerintah untuk membatalkan keputusan tersebut.

Keluarga Andrew Chan dan Myuran Sukumaran mengatakan tidak ada satu mahluk hidup yang pantas mendapatkan siksaan seperti itu dan meminta presiden serta rakyat Indonesia untuk mengampuni kedua pria Australia yang dikenal dengan sebutan duo Bali Nine tersebut.

Sementara itu, Angelica -teman dari Mary Jane Fiesta Veloso, terpidana mati dari Filipina- menjelaskan bahwa Mary Jane adalah seorang individu yang baik.

“Saya salut sama Mary Jane. Dia tegar, sama sekali tidak ada air mata,” kata Angelica seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia Rizki Washarti di Cilacap, di seberang LP Nusakambangan, tempat pelaksanaan eksekusi.

Hak atas foto Reuters
Image caption Kedua anak Mary Jane, terpidana asal Filipina, sudah tiba di LP Nusakambangan.

Hari Selasa, Pengadilan Tata Usaha Negara di Jakarta juga sudah menolak gugatan perlawanan yang diajukan terpidana mati asal Prancis, Serge Areski Atlaou, walaupun tidak bisa dipastikan apakah dia akan dieksekusi bersamaan dengan sembilan terpidana lain atau tidak.

Proses hukum

Rencana ekseusi sembilan terpidana mati kasus narkoba muncul di saat beberapa narapidana masih mengajukan proses hukum.

Kuasa hukum Rodrigo Gularte, terpidana mati asal Brasil yang diduga mengalami gangguan kejiwaan, Ricky Gunawan, menuturkan kondisi kejiwaan Rodrigo masih akan diproses di Pengadilan Negeri Cilacap pada tanggal 6 Mei mendatang.

Namun, hal ini tampaknya tidak menjadi bahan pertimbangan pemerintah untuk menunda proses eksekusi.

Hak atas foto Reuters
Image caption Belum ada pengumuman resmi tentang jam eksekusi namun diduga Selasa 28 April malam.

Lebih lanjut, ibu Rodrigo, Angelita Aparecida Muxfeldt, juga menggugat Presiden Joko Widodo karena dianggap tidak memperoses grasi dengan tepat.

“Menurut undang-undang grasi, pengiriman berkas permohonan grasi dari Pengadilan Negeri ke Mahkamah Agung ada jangka waktu. Dan pengiriman tersebut terlambat 24 hari,” kata Ricky.

Angelita dalam kesempatan tersebut menuturkan setelah dia berada di Indonesia selama 30 hari, pada hari Selasa ini Rodrigo terlihat paling tenang.

Dia juga dikabarkan tidak ingin ibunya, Angelita, menangis dan masih tidak percaya bahwa eksekusi akan terjadi.

Pemerintah pada hari Sabtu (25/04) sudah memanggil para pejabat kedutaan besar dari negara terpidana untuk membahas rencana eksekusi mati.

Mereka juga diberi surat pemberitahuan yang menyatakan proses eksekusi akan dilaksanakan paling cepat 3x24 jam sejak mendapat pemberitahuan tersebut.

Berita terkait