Tunjangan sosial terus dipangkas

  • 28 Juni 2013
  • komentar
Job Centre Image copyright PA
Image caption Job Centre, tempat orang mendaftarkan diri mencari pekerjaan dan mengurus tunjangan.

Publik Inggris tampaknya semakin akrab dengan istilah review anggaran yang artinya meninjau anggaran yang sedang berjalan dan melakukan penyesuaian. Akan tetapi review anggaran di sini semakin identik dengan pengurangan atau bahkan penutupan di tengah krisis keuangan yang dialami Inggris.

Pemerintah koalisi pimpinan Konservatif lewat Menteri Keuangan George Osborne pekan ini menyampaikan hal yang dikhawatirkan masyarakat bahwa berbagai tunjangan kesejahteraan yang selama ini bisa diandalkan menjadi jaring pengaman sosial ternyata dikikis.

Ketika di Indonesia sedang dibagikan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) untuk mengimbangi kenaikan harga-harga akibat kenaikan harga bahan bakar, pemerintah Inggris mengurangi tunjangan sosial untuk menghemat anggaran.

Orang yang baru saja kehilangan pekerjaan selama ini mendapat tunjangan £56 atau sekitar Rp850.000 per minggu selama maksimal tiga bulan. Tidak besar memang untuk standar kehidupan di Inggris, tetapi cukup membantu memenuhi kebutuhan pokok selama masa transisi.

Tunjangan tersebut dapat diklaim tiga hari setelah seseorang menjadi penganggur, tetapi dengan review anggaran terbaru, tunjangan itu baru dapat diklaim satu minggu kemudian.

Mencari pekerjaan baru

Image caption Jumlah kunjungan ke bank makanan meningkat pesat belakangan.

Nah, ini tentu merepotkan bagi orang yang benar-benar membutuhkan uang Rp850.000 per minggu untuk menopang kehidupan rumah tangga, apalagi ia baru saja mengalami guncangan psikologis setelah menyandang status baru sebagai penganggur.

Namun Menteri Keuangan George Osborne menegaskan waktu satu minggu setelah kehilangan pekerjaan harus digunakan untuk mencari pekerjaan baru, bukannya mengisi formulir pengajuan tunjangan pengangguran.

Pukulan lainnya menimpa orang tua tunggal. Seorang ibu yang menerima tunjangan sebagai orang tua tunggal dan mengasuh anak, sekarang diharuskan kembali bekerja begitu anaknya menginjak usia tiga tahun. Kalau tidak, ia terancam kehilangan tunjangan.

Bank makanan

Dilemanya, sang ibu harus menitipkan anak di penitipan atau menyewa pengasuh dan biayanya aduhai mahal. Jadi bila orang tunggal tidak berhasil mendapat pekerjaan dengan gaji memadai, maka ia pun berada dalam posisi sulit untuk memutuskan bekerja atau tidak.

Dua jenis pemotongan tunjangan tersebut, menurut beberapa badan amal, sudah cukup untuk menyebabkan warga pas-pasan jatuh miskin ala Inggris.

Tentu standar kemiskinan di Inggris berbeda dengan di Indonesia. Garis kemiskinan di sini diukur dengan pendapatan sekitar £165 atau sekitar Rp2,5 juta per minggu bagi satu orang dewasa tanpa tanggungan anak.

Dan pemangkasan tunjangan juga disebut akan mendorong semakin banyak orang mengantre di food bank atau bank makanan yang dijalankan oleh berbagai badan amal. Bank ini menyediakan makanan, antara lain makanan kaleng, susu, dan roti, secara cuma-cuma bagi warga yang memerlukan.

Menurut salah satu badan amal, Trussell Trust, kunjungan ke bank makanan yang dioperasikannya meningkat 470% selama satu tahun terakhir.

Pertolongan seperti ini tentu sangat membantu warga berpenghasilan rendah atau tanpa penghasilan ketika negara kurang berperan atau mengurangi perannya.