Mencari investasi 'bersih'

Katedral Canterbury
Image caption Gereja Anglikan Inggris memiliki persyaratan tegas untuk investasinya.

Awalnya adalah keinginan Gereja Anglikan Inggris untuk melawan perusahaan rentenir Wonga, yang menawarkan pinjaman jangka pendek dengan prosedur gampang namun bunga mencekik.

Di tengah-tengah krisis keuangan, Wonga dengan aktif mempromosikan jasanya lewat berbagai media dan juga klub sepakbola, Newcastle United.

Masalahnya -atau mungkin lebih tepat disebut sebagai kenyataanya- Wonga bukan membantu tapi justru membuat orang menjadi terlilit hutang, yang semakin besar dengan bertambahnya waktu.

Maka Uskup Agung atau pemimpin tertinggi Gereja Anglikan, Justin Welby, ingin melawannya dengan cara membuat Wonga bangkrut secara bisnis.

Kepada bos Wonga, Errol Damelin, Uskup Welby secara terus terang mengatakan 'kami tidak berurusan untuk membuat keberadaan Anda dilarang, tapi kami berupaya untuk bersaing dengan Anda."

Caranya adalah dengan membentuk Serikat Kredit dan lembaga-lembaga sosial, peminjam uang boleh menggunakan gedung dan keahlian yang dimiliki gereja.

Dengan cara itu maka pelanggan tentu memilih ke lembaga peminjam nirlaba itu, yang jelas menawarkan bunga amat rendah karena mendapat bantuan gereja.

Waktu itu Errol Damelin mengatakan bahwa keberadaan mereka menjadi 'pilihan bagi nasabah.'

Terlibat Wonga

Image caption Uskup Agung Justin Welby ingin melawan Wonga lewat persaingan bisnis.

Sehari setelah niat baik itu tersebar luas, harian ekonomi bergengsi The Financial Times menurunkan berita bahwa Gereja Anglikan Inggris secara tidak langsung menanam modalnya di Wonga.

Memang Gereja Anglikan memiliki semacam lembaga investasi untuk menggalang dana bagi operasinya, antara lain membayar gaji para pendeta, merawat gereja, maupun mendukung kegiatan-kegiatan sosial lainnya.

Ada kode etik yang jelas dalam investasi, yaitu khusus untuk perusahaan-perusahaan yang 'bersih'.

Jadi dengan tegas ada larangan investasi untuk perusahaan yang 3% bersumber dari pornografi, 10% dari produk dan jasa militer, atau 25% dari industri 'kotor' seperti judi, alkohol, dan lembaga kredit berbunga tinggi. Dan Wonga jelas masuk dalam larangan itu.

Ternyata, seperti dilaporkan The Financial Times, ada kaitan antara Gereja Anglikan Inggris dengan Wonga lewat perusahaan modal ventura asal Amerikat Serikat, Accel Partners, yang menggalang dana untuk pendirian Wonga pada tahun 2009.

Proporsi investasi Gereja Anglikan Inggris di Accel Partners itu sebenarnya amat kecil, sebesar £75.000 dari rotal investasi £5,5 miliar.

Tapi jelas mempermalukan gereja dan khususnya Uskup Welby, yang sudah memerintahkan penyelidikan internal sehubungan dengan keterlibatan di Wonga itu.

Cisse dan Wonga

Image caption Foto yang diaykini Cisse ketika sedang berada di sebuah kasino.

Bukan hanya Gereja Anglikan yang anti-Wonga, juga penyerang Newcastle United yang beragama Islam, Papiss Cisse.

Dia sempat menolak untuk menggunakan kaus bertuliskan Wonga karena berdasarkan ajaran Islam dilarang meminjamkan uang dengan harapan akan mendapat keuntungan atau riba.

Ada beberapa pemain Muslim di Newcastle, namun hanya Cisse yang keberatan terhadap kaus sponsor itu.

Tetapi setelah diskusi beberapa minggu, Cisse sepakat untuk mengenakan kaus yang mempromosikan Wonga.

Beberapa media kemudian mengkaitkan kesepakatan Cisse itu dengan tersebarnya foto yang tampak seperti dia sedang duduk di depan meja blackjack di sebuah kasino.

Foto itu diambil oleh seorang pendukung Newcastle yang kebetulan sedang berada di tempat yang sama dan mengatakan pria yang tampak seperti Cisse itu -namun diyakininya sebagai Cisse- ikut berjudi dengan £10 dan £20.

Tak ada komentar dari Cisse soal foto itu, tapi yang jelas setelah foto itu beredar, Cisse sepakat mengenakan kaus Wonga.

Apa pun, saya khawatir kalau Wonga malah makin terkenal karena dua kasus ini.