Krisis Suriah dengan pelajaran Perang Irak

Suriah
Image caption PBB memperkirakan lebih dari 100.000 warga Suriah tewas dalam konflik.

Saya menduga pengalaman perang Irak 2003 lalu membuat keputusan untuk menyerang Suriah menjadi tidak mudah atau sebutlah tidak mencerminkan ketergesaan.

Sepertinya begitulah terlihatnya dari berita-berita di London sini.

Mungkin Anda masih ingat waktu itu Amerika Serikat dan Inggris -persisnya George Bush dan Tony Blair- terkesan sudah lebih dulu memutuskan untuk menyerbu Irak.

Ada memang upaya 'basa-basi' untuk mencapai resolusi kedua atau ke-18 di PBB tapi tidak tercapai dan tetap saja pada 19 Maret 2013 pasukan AS dan sekutu dekatnya menyerbu Irak.

Padahal sekitar sebulan sebelum perang, satu juta warga Inggris berkumpul di pusat kota London untuk menyatakan penentangan atas perang Irak, namun Tony Blair bergeming dan tetap mendukung perang sampai kemudian dia mendapat julukan anjing poodle-nya Bush.

Inggris menentang

Kali ini parlemen Inggris secara prinsip menentang serangan militer ke Suriah dan Perdana Menteri David Cameron sudah menegaskan menerima keputusan itu.

Image caption Presiden Obama sudah menegaskan aksi militer Suriah kelak terbatas dan proporsional.

Menteri Pertahanan Phillip Hammond masih membuka kemungkinan untuk voting kedua tentang aksi militer ke Suriah namun langsung menambahkan jika situasinya berubah secara signifikan.

Di negara tetangga Inggris, Prancis, Presiden Francois Hollande mengatakan membuka peluang untuk mendukung AS jika aksi militer ditempuh.

Bagaimanapun dia tetap menggelar debat di parlemen Prancis tentang aksi militer Suriah -bukan pemungutan suara- aalau sebagai presiden keputusan berada di tangannya.

Jerman lebih tegas lagi menolak aksi militer Suriah, sama seperti ketika perang Irak dulu. Sejak awal Berlin sudah menegaskan posisinya tanpa harus menggelar debat di parlemen.

Kesan hati-hati juga terlihat di Amerikan Serikat.

Walau Presiden Obama menyatakan mempertimbangkan aksi militer ke Suriah, dia langsung meredakannya dengan 'aksi terbatas dan proporsional.'

Konflik sektarian

Dampak perang Irak jelas masih hidup di benak banyak orang, politisi maupun warga biasa.

Bukan saja alasan invasi yang ternyata 'kosong' -karena senjata pemusnah massal Irak tidak terbukti- juga karena invasi militer hingga 10 tahun kemudian belum bisa memecahkan masalah Irak.

Jelas banyak cara pandang. Ada yang menegaskan Irak pasca-Saddam Hussen lebih baik karena kini ada pemerintahan yang demokratis.

Pemilihan lokal April 2013 juga berlangsung tanpa kekerasan meluas, yang dilihat sebagai sebagai petunjuk baik untuk pemilihan umum tahun depan.

Tapi bagi pihak lain -dan mungkin sebagian besar warga Irak- kehidupan sehari-hari masih diwarnai kekerasan dan korban jiwa berjatuhan.

Image caption Korban masih terus berjatuhan akibat konflik sektarian di Irak.

Konflik sektarian antara umat Syiah yang mendominasi pemerintahan pimpinan Perdana Menteri Nouri al-Maliki dengan umat Sunni, yang dulu mendukung mendiang Saddam Hussein, masih belum menunjukkan tanda mereda.

Berita baik dan buruk?

Dalam pekan ini saja, Selasa (03/09) dan Kamis (05/09), terjadi serangan atas kawasan pemukiman umat Syiah di sekitar ibukota Baghdad yang menewaskan 70 orang lebih.

Hingga saat ini, sejak Januari 2013, PBB memperkirakan 5.000 orang lebih mati dan 12.000 lainnya cedera di Irak.

Jadi apakah invasi Irak 10 tahun lalu bisa dibilang berhasil?

Tak ada jawaban pasti, tapi pasti banyak keraguan yang tercermin dalam hari-hari menjelang aksi militer ke Suriah.

Orang masih menunggu Kongres Amerika Serikat yang akan membahas tentang aksi militer Suriah Senin (09/09) pekan depan.

Apa pun keputusannya kelak, menyerang atau tidak, jelas semua pemimpin dunia tidak ingin mengulang tragedi Irak.

Itu berita baiknya.

Cuma ada berita buruknya, nasib warga Suriah jadi tergantung dari para politisi di negara-negara besar padahal, seperti perkiraan PBB, hingga saat ini sudah 100.000 orang tewas di Suriah dan dua juta lainnya mengungsi.