Masyarakat tanpa uang kontan

  • 8 Mei 2014
  • komentar
Kartu Oyster
Sudah sejak lama operator transportasi London mengadopsi pembayaran dengan kartu.

Sejak beberapa pekan terakhir, pengeras suara di berbagai stasiun kereta bawah tanah di London ramai dengan pengumuman soal metode pembayaran baru.

Hampir setiap 10 menit pengeras suara ini mengumumkan bahwa para pengguna transportasi diminta untuk memisahkan antara kartu kredit dan kartu Oyster, kartu elektronik yang selama beberapa tahun terakhir sudah digunakan otoritas transportasi London sebagai alat pembayaran untuk bus kota, tram, dan kereta.

Kedua kartu perlu dipisahkan karena banyak perusahaan kartu kredit yang sekarang memasukkan fitur contactless payment, demikian kata pengumuman tersebut.

Fitur ini memungkinkan pemilih kartu untuk hanya menempelkan kartu ke mesin pembaca dan pembayaran biaya perjalanan pun langsung terjadi. Singkat dan efektif.

Selain otoritas transportasi London, banyak juga toko-toko kecil, semacam kedai kopi, yang menerima skema contactless payment ini.

Dengan skema semacam ini, yang jelas makin terasa adalah 'kemunculan masyarakat tanpa uang kontan'.

Sudah lama gaji tidak lagi diserahkan dalam amplop. Semuanya langsung masuk ke rekening.

Di rekening ini sudah diatur aneka pembayaran otomatis, mulai dari tagihan listrik, gas, air, hingga cicilan kredit rumah.

Tagihan lain, misalnya kartu kredit bisa dilakukan dengan online banking.

Kirim uang lewat nomor ponsel

Konsumen dan dunia usaha diminta untuk tidak memakai uang kontak.

Punya utang ke teman? Tak masalah. Bank-bank Inggris sekarang memungkinkan pembayaran atau pengiriman uang antarteman hanya dengan menggunakan nomor telepon genggam.

Belum lagi aneka aplikasi seperti paypal yang membuat uang kontan makin terasa tak diperlukan.

Tranformasi menuju 'masyarakat tanpa uang kontan' ini bukannya tanpa alasan.

Kajian menunjukkan pemakaian uang kontan, baik kertas maupun koin, memakan ongkos £3.600 atau sekitar Rp70 juta per tahun yang harus ditanggung oleh kalangan pengusaha kecil dan menengah.

Bila dihitung secara nasional, dan ditambah dengan ongkos yang harus ditanggung seluruh pengusaha di Inggris, maka angkanya menjadi £17,8 miliar atau Rp348 triliun.

Sage, perusahaan penyedia jasa manajemen pembayaran, yang melakukan kajian ini meminta agar kalangan dunia usaha secepatnya mengadopsi skema pembayaran yang cepat, aman, efektif, dan tanpa melibatkan sama sekali uang kontan.

Sage juga mengungkapkan bahwa sebagian besar konsumen mendukung skema pembayaran tanpa uang kontan.

Saya pribadi juga senang dengan skema ini.

Setidaknya, kalau beli kue atau kopi di jalan, saya tak harus repot-repot mencari anjungan tunai mandiri untuk menarik uang.

Cukup tempelkan kartu ke terminal pembayaran, dan uang pun berpindah sudah berpindah tangan.