Langkah awal Boris menuju PM?

Boris Johnson Hak atas foto Getty
Image caption Sebelum jadi walikota, Boris Johnson memang menjadikan sepeda sebagai alat angkutan.

Sebagai walikota London, Boris Johnson rasanya -menurut saya- tidaklah cemerlang dari segi kinerja walau sekaligus tidak buruk pula.

Jika saya mengingat-ingat, mungkin kebijakannya yang paling top adalah memberlakukan sistem satu tiket untuk semua angkutan umum di London.

Namanya Kartu Oyster yang bisa digunakan untuk kereta api, kereta bawah tanah, kereta atas tanah, kereta DLR, dan bus.

Satu kartu disentuhkan ke mesin pembaca -yang akan menghitung pembayaran otomatis- saat ke luar dan masuk ke moda angkutan tertentu.

Jika nilai kartu sudah menipis atau habis, pemakai tinggal pergi ke mesin di stasiun atau toko-toko yang tersebar di mana-mana untuk ditambah atau istilah kerennya di 'top up'.

Kartu yang juga bisa dibeli pelancong asing ini praktis, walau sebagian orang -termasuk saya- mengeluhkah biaya angkutan umum di London yang mahal.

Lainnya?

Ada yang disebut Boris Bike atau Sepeda Boris. Itu sepeda yang bisa disewa di dalam kota London.

Sebenarnya program itu ditiru dari kota lain dan digagas walikota sebelumnya tapi terwujud pada masa pemerintahannya. Jadi dia yang mendapat 'berkah': Sepeda Boris.

Bagaimanapun dia cukup bersemangat untuk membuat jalanan London lebih akrab untuk pesepeda, walau tetap saja kecelakaan fatal masih terjadi karena belum semua jalan di London memiliki jalur khusus untuk sepeda.

Gaya nyentrik

Tentu ada kebijakan-kebijakan lain, seperti larangan minum alkohol di kereta bawah tanah -untuk mencegah gangguan dari orang-orang mabuk- atau rencana mengoperasikan kereta bawah tanah selama 24 jam penuh.

Hak atas foto PA
Image caption Boris Johnson pakai kaca mata pelindung untuk beraksi memangkas pohon.
Hak atas foto PA
Image caption Dan turun tangan dengan gergaji listrik di Hackney, London utara.

Cuma Boris rasanya lebih dikenal bukan dari kebijakannya tapi gayanya yang rada nyentrik.

Rambutnya pirang panjang dan awut-awutan dan dia sering kali bertingkah rada tidak biasa, antara lain bersepeda ke kantor dengan mengenakan jas lengkap.

Sekali waktu ketika sedang kampanye pembersihan sungai, dia mau ikut turun tangan langsung dengan sepatu karet pelindung setinggi lutut dan terjerembab ke dalam sungai sedalam sekitar dadanya.

Pernah juga Pak Boris tersangkut di perosotan tali ketika meramaikan festival di taman dan orang-orang pun tertawa, mungkin -seperti saya- sambil tertanya-tanya "Ngapain sih pak walikota ikut main perosotan tali kayak anak-anak".

Waktu London merencanakan untuk membeli meriam air -sebagai tindakan berjaga-jaga jika terjadi kerusuhan lagi seperti tahun 2011- ada kritik bahwa meriam air harus diuji keamanannya dulu sebelum dibeli.

Boris Johnson dengan enteng mengatakan siap menjadi 'kelinci percobaan' untuk ditembak meriam air guna membuktikan bahwa hal tersebut tidak berbahaya.

Tokoh populer?

Di kalangan kaum muda London, Boris cukup populer, dan memang sempat beredar isu dia juga berambisi untuk menjadi Perdana Menteri walau sudah dibantahnya.

Hak atas foto Getty
Image caption Boris Johnson menegaskan tidak berencana mencalonkan diri menggeser PM David Cameron.

Namun Rabu 6 Agustus dia mengumumkan ikut mencalonkan diri sebagai anggota parlemen pada pemilihan umum Inggris 2015 mendatang, walau belum memutuskan wilayah pemilihannya.

Dia sudah pernah terpilih sebagai anggota parlemen dan mundur setelah terpilih menjadi walikota London tahun 2008 maupun untuk masa jabatan kedua 2012 hingga 2016.

Banyak yang bertanya apakah setelah selesai tugas menjadi walikota kelak dia akan kembali ke anggota parlemen saja? Atau dia mengintip kursi yang lainnya?

Jadi wajar rasanya jika keinginan untuk kembali ke Westminster, kantor parlemen Inggris, ditafsirkan sebagai langkah awal untuk kembali bermain di tingkat politik nasional.

Dan berbagai media langsung mengkaitkan dengan kemungkinan dia menggesar David Cameron sebagai Ketua Partai Konservatif sementara rumah-rumah judi sudah langsung membuka taruhan untuk itu.

Entah kenapa, saya langsung teringat kepada Jokowi -Gubernur DKI Jakarta yang sudah ditetapkan KPU sebagai pemenang pemilihan presiden Indonesia.

Boris -menurut saya- bisa juga lah disamakan dengan Jokowi -yang suka blusukan- karena sama-sama tidak terpaku pada pendekatan resmi sehingga bisa disebut dengan istilah 'antipolitik'.

Di jaman sekarang ini, pada abad 21, bisa saja 'karakter' lebih diperlukan seorang calon pemimpin daripada programnya.

Dan siapa tahu Boris mengambil inspirasi dari Jokowi?