Uni Eropa dan Kanada coba selamatkan perjanjian CETA

Hak atas foto Reuters
Image caption Demonstrasi terhadap perjanjian Ceta di luar kantor Uni Eropa di Brussel, Belgia

Kanada dan Uni Eropa berusaha terus menyelamatkan perjanjian dagang Ceta yang diblokir oleh tiga kawasan Wallonia -yang merupakan kawasan berbahasa Prancis- di Belgia.

Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk, berkata masih ada kemungkinan Ceta (Comprehensive Economic and Trade Agreement/Perjanjian Komprehensif Ekonomi dan Perdagangan) akan ditandatangani sesuai rencana. Menteri Perdagangan Kanada juga mengatakan perjanjian tersebut 'belum mati.'

Namun Belgia berkata tidak dapat mendukung perjanjian karena tiga daerah yang berbahasa Prancis di negara tersebut menolaknya.

Ceta membutuhkan dukungan ke 28 negara Uni Eropa agar bisa disahkan.

Ceta adalah perjanjian perdagangan bebas Uni Eropa paling ambisius hingga saat ini, yang dirundingkan sejak tujuh tahun lalu. Sejauh ini seluruh 27 negara Uni Eropa lainnya ingin menandatangani perjanjian.

Meski demikian, harapan bahwa perjanjian akan ditandatangani pada Kamis (27/10), berantakan pada hari Senin (24/10) ketika Perdana Menteri Belgia, Charles Michel, menyatakan tidak mendapat dukungan penuh dari lembaga federal, regional, dan komunitas negaranya.

Dia mengatakan perundingan dengan Wallonia -sebuah daerah sosialis garis keras dengan penduduk 3,6 juta orang- dan dua badan lain telah gagal.

Kendatipun begitu, Donald Tusk tetap bersemangat setelah berbicara dengan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengenai Ceta pada Senin.

Di twitternya, Tusk menulis: "Bersama Perdana Mentri @JustinTrudeau, kami berpikir konferensi pada Kamis tetap memungkinkan. Kami mendorong semua pihak untuk menemukan sebuah solusi. Masih ada waktu."

Chrystia Freeland, menteri perdagangan internasional Kanada menyatakan dia juga tetap berharap perjanjian tersebut dapat diselamatkan, namun 'keputusan ada di tangan Eropa'.

Hak atas foto Reuters
Image caption Chrystia Freeland berkata perjanjian Ceta 'belum mati' dan Kanada telah memenuhi kewajibannya

Dewan Eropa, yang melakukan negosiasi mewakili 28 negara, telah meminta Belgia untuk mengambil keputusan pada Senin.

Namun kemudian bersikeras bahwa konferensi pada Kamis bukanlah tenggat waktu akhir penandatanganan perjanjian tersebut.

"Sekarang, kita membutuhkan kesabaran," jubir Dewan UE Margaritis Schinas berkata. "Dewan UE biasanya tidak menetapkan tenggat waktu atau ultimatum."

'Bahan tertawaan'

Wallonia telah menyampaikan keberatan terhadap perjanjian, menuntut perlindungan lebih pasti bagi buruh, lingkungan dan standar konsumen.

Ketakutan kelompok sosialis Belgia tersebut menggaungkan suara aktivis anti globalisasi, yang mengatakan Ceta dan perjanjian serupa memberikan kekuasaan terlalu besar bagi perusahaan multinasional, memberikan kekuasan yang bahkan dapat mengintimidasi pemerintah negara-negara.

Demonstrasi besar juga terjadi di beberapa negara-negara UE terhadap Ceta dan TTIP (Transatlantic Trade and Investment Partnership atau Kerjasama Perdagangan dan Investasi Transaltantis) anatara UE dan AS.

Kanada dan UE akan menghapuskan 98% tariff di bawah Ceta, yang telah dinegosiasikan antara 2009 dan 2014.

Para pendukungnya berpendapat ini akan meningkatkan perdagangan di antara keduanya hingga 20%, dan akan mendorong usaha-usaha kecil.

Pihak yang mengkritik berkata perjanjian ini mengancam standar produk dan melindungi perusahaan besar, dan memungkinkan perusahaan-perusahaan untuk menuntut pemerintah.

Sebelumnya, pemimpin regional Wallonia, Paul Magnette memperingatkan: "Kami tidak akan memutuskan apapun di bawah ultimatum atau tekanan."

Rekannya di Flanders, wilayah Belgia yang berbahasa Belanda, Geert Bourgeois, berkata hambatan tersebut 'sangat disesalkan'.

"Kita menjadi bahan tertawaan seluruh dunia," kata politikus bergaris kanan tengah itu, seperti dikutip kantor berita Reuters.

Sekitar BBC