Patroli Cina 'tak tampak' di kawasan Scarborough Shoal

Scarborough Shoal Hak atas foto Renato Etac/AP
Image caption Aparat penjaga pantai Cina (bertopi hitam dan jaket oranye) mendekati kapal nelayan Filipina di Scarborough Shoal di Laut Cina Selatan dalam satu insiden tahun 2015.

Pemerintah Filipina mengatakan kapal penjaga pantai Cina tidak terlihat dalam tiga hari belakangan di Scarborough Shoal di Laut Cina Selatan, yang menjadi sengketa antara kedua negara.

Dengan tidak adanya patroli Cina tersebut maka para nelayan Filipina dengan bebas bisa beroperasi di kawasan laut tersebut untuk pertama kalinya dalam waktu empat tahun belakangan.

Langkah yang tampaknya merupakan penarikan mundur kapal-kapal Cina ini ditempuh setelah kunjungan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, ke Cina awal Oktober ini, seperti dilaporkan wartawan BBC untuk masalah Asia Tenggara, Jonathan Head, dari Bangkok.

Dalam lawatannya ke Cina, Presiden Duterte mengatakan akan berpisah dari Amerika Serikat dan menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Cina.

Pemerintah Beijing dan Manila bersengketa dalam kepemilikan Scarborough Shoal dan Mahkamah Internasional PBB di Den Haag, Belanda, pada Juli tahun ini mendukung posisi Filipina dengan memutuskan klaim Cina atas hak-hak di Laut Cina Selatan tidak memiliki dasar hukum.

Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Rodrigo Duterte berulang kali mengungkapkan kemarahannya kepada Amerika Serikat.

Namun ketika berada di Beijing, Duterte juga mengatakan tidak akan memaksakan klaim atas kawasan laut dangkal itu karena, menurutnya, Filipina tidak bisa mengimbangi kekuatan Cina.

Selama empat tahun belakangan kapal-kapal penjaga pantai Cina melakukan patroli di perairan sekitar Scarborough Shoal, mengusir kapal-kapal nelayan Cina yang biasa menangkap ikan di sana.

Para pejabat Filipina mengatakan dalam kunjungan Duterte ke Cina, berhasil dicapai sebuah pemahaman yang memungkinkan nelayan Filipina kembali ke kawasan laut tersebut.

Selain itu Filipina juga mendapat kesepakatan investasi dari Cina senilai US$20 miliar lebih.

Cina, yang tetap mengklaim kepemilikan Scarborough Shoal dan sebagian besar pulau di Laut Cina Selatan, tampaknya senang dengan kemarahan Presiden Duterte atas sekutu lama Filipina, Amerika Serikat, dan janjinya untuk menjalin hubungan lebih erat dengan Cina dan Rusia.

Kemarahan Duterte atas AS dipicu oleh kritik terhadap kebijakannya untuk menembak mati para pengedar narkotika di Filipina tanpa proses hukum.

Topik terkait

Berita terkait