Konflik Yaman: Puluhan tewas akibat serangan udara di penjara

Petugas keamanan Yemen menjaga lokasi ledakan bom bunuh diri mobil di kota kedua Yaman, Alden, pada 29 Oktober 2016 Hak atas foto AFP
Image caption PBB mengatakan bahwa konflik di Yaman telah menewaskan sedikitnya 7.000 orang

Puluhan orang dilaporkan tewas di sebuah kompleks penjara Yaman akibat serangan udara yang dilakukan koalisi pimpinan Saudi.

Serangan tersebut mengenai bangunan yang digunakan sebagai penjara di markas keamanan al-Zaydiya, di kota pelabuhan Hudaydah, kata pejabat keamanan dan medis.

Kota tersebut berada di bawah kendali pemberontak Houthi, yang sudah melawan pemerintah sejak 2014.

Ada lebih dari 30 orang yang tewas, dan pemberontak serta tahanan termasuk di dalamnya. Media Houthi menyebut jumlah korban tewas mencapai 43.

Koalisi yang mendukung presiden eksil Yaman, Abdrabbuh Mansour Hadi, telah mendapat kecaman terkait jumlah warga sipil yang tewas dalam serangan udara mereka.

Awal bulan ini, sedikitnya 140 orang tewas dan kebanyakan adalah warga sipil, akibat bom dari pesawat yang dijatuhkan di atas aula pemakaman di ibu kota Yaman, Sanaa.

Koalisi kemudian menyalahkan serangan tersebut pada "informasi yang buruk".

Serangan udara terakhir terjadi setelah Presiden Hadi menolak proposal damai yang diajukan oleh utusan PBB Ismail Ould Cheikh Ahmed.

Presiden Hadi, yang tinggal dalam pengasingan di ibu kota Saudi, Riyadh, mengatakan bahwa rencana tersebut "memberi imbalan pada pemimpin kudeta dan sekaligus menghukum warga Yaman".

Detail dari "peta jalan" damai tersebut belum diumumkan pada publik namun dipercaya akan memberi porsi pada pemberontak dalam pemerintahan di masa depan.

Rencana tersebut juga diyakini akan mengurangi kekuasaan presiden dan sebagai gantinya, Houthi akan menarik diri dari beberapa kota besar.

Syiah Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014. Sebagian besar pemerintahan Yaman yang diakui internasional kini berbasis di kota kedua Yaman, Aden.

Konflik tersebut memuncak pada Maret 2015 ketika koalisi yang dipimpin Saudi melancarkan serangan udara sebagai upaya untuk menghambat pemberontak.

Berita terkait