Apakah cerita mengenai pemerkosaan menghentikan sebuah acara TV di Cina?

foto acara TV Hak atas foto Xin Yue Le
Image caption Dalam dua episode, nenek dan ibu Qian Qian bercerita kepada pembawa acara bahwa mereka tidak melapor ke polisi saat Qian Qian diperkosa berulang kali

Sebuah acara TV populer di Cina dihentikan setelah menampilkan ibu dan nenek seorang gadis muda yang diduga telah diperkosa berulang kali, namun tidak pernah melaporkannya. Wartawan BBC Grace Tsoi menjelaskan kegaduhan yang terjadi dan mengapa korban pemerkosaan di Cina enggan melapor.

Xin Lao Niang Jiu adalah program TV Cina yang mirip dengan acara Jerry Springer di AS, dan sangat digemari oleh kalangan paruh baya di Shanghai. Dalam acara tersebut, pembawa acara menengahi konflik keluarga terkait seks, misalnya seorang suami yang bersikeras tidur di tempat tidur ibunya.

Namun sekarang acara tersebut dihentikan setelah kegaduhan publik yang muncul setelah penayangan dua episode pada 19 dan 20 Oktober.

Kedua episode tersebut menampilkan seorang ibu dan nenek dari seorang perempuan berusia 22 tahun bernama Qian Qian (bukan nama aslinya) dan mereka menjelaskan bagaimana dia diperkosa oleh tiga laki-laki saat berusia 17 tahun.

Mereka menceritakan bagaimana dia diperkosa lagi dua tahun kemudian oleh seorang supir taksi. Berdasarkan kesaksian mereka, dia memperkosanya berulang kali hingga melahirkan dua anak.

"Kami tidak berani menghubungi polisi. Pertama, kami tidak memiliki uang. Kedua, kami tidak mengenal siapapun di kantor polisi," kata nenek ketika pembawa acara menanyakannya menganpa mereka tidak meminta pertolongan polisi.

Kekuatan kemarahan publik

Hak atas foto Weibo
Image caption Para netizen marah akibat dua episode Xin Lao Niang Jiu yang mengisahkan bagaiamna keluarga seorang wanita 22 tahun tidak pernah melaporkan pemerkosaannya

Hal itu menimbulkan gelombang kemarahan terhadap sang ibu dan nenek dan program televisi. Bagi penonton, jelas bahwa perempuan muda tersebut dibesarkan dengan tidak benar dan memiliki isu kesehatan mental.

Acara tersebut tidak memberikan komentar resmi terkait penghentian, namun seorang staf berkata ke BBC hal itu karena adanya 'perubahan program'. Media lokal mengutip sebuah dokumen dari badan penyiaran Shanghai tertanggal 24 Oktober, yang mengatakan program tersebut dihentikan akibat 'kasus negatif'.

Kebanyakan penghakiman di media sosial dan media besar terfokus pada ibu dan nenek - mereka 'tak terpelajar dan salah arah' dan 'perbuatan mereka tak dapat dimaafkan'. Yang lain menanyakan kebenaran kasus tersebut. Namun bawaan program yang 'eksploitatif' tidak menghindarkan mereka dari kemarahan publik.

Disiarkan oleh Shanghai Media Group, Xin Lao Niang Jiu mengklaim setiap kasus yang ditampilkan benar dan ditangani dengan tepat. BBC tidak dapat memverifikasi ihwal kasus ini meski sudah menghubungi kepolisian Shanghai berulang kali.

Namun di tengah kemarahan terhadap ibu dan nenek, hanya sebagian yang berpikir realita para perempuan yang harus menghadapi siksaan seperti itu di Cina.

Lumrah, pemerkosaan yang tidak dilaporkan

Pengalaman Qian Qian mungkin sulit dipercaya sebagian orang, namun para ahli berkata cukup lumrah bagi korban dan keluarga korban pemerkosaan dan kekerasan seksual tidak mencari bantuan dari pihak yang berwenang.

Ada beberapa statistik resmi dan riset skala nasional yang mendalami pemerkosaan dan kekerasan seksual di Cina, kata Edward Chan Ko-ling, seorang profesor pekerjaan sosial di Universitas Hong Kong.

Namun menurut satu risetnya pada 2013 yang menanyakan ke lebih dari 14.000 murid di lima kota Cina, 6,1 persen anak-anak usia 15 hingga 17 tahun dilaporkan telah mengalami kekerasan seksual oleh seorang dewasa. Dalam sebuah riset PBB pada 2013, 8,1 persen responden pria di Cina berkata mereka telah memperkosa seorang yang bukan pasangan mereka.

Sehingga program tersebut mengungkapkan dan menyentuh kekesalan masyarakat Cina.

Lu Xiaoquan, seorang pimpinan di firma hukum Qianqian yang menyediakan bantuan hukum kepada para perempuan berpendapat stigmatisasi korban adalah hal yang krusial.

"Dalam tradisi Cina, pria menikmati status yang lebih tinggi dari wanita… Jika seorang perempuandilecehkan secara seksual, tetangganya, gurunya, keluarganya, walinya dan orangtuanya berpikir dia sudah tidak suci lagi," kata pengacara asal Beijing tersbeut.

Sistem yang tidak menolong

Lu berkata sebagian orang berpikir bahwa melaporkan pemerkosaan dan pelecehan seksual ke pihak berwajib akan merusak reputasi korban dan seluruh keluarganya.

"Orang-orang tidak memiliki kepercayaan terhadap sistem, termasuk polisi dan sistem hukum. Mereka juga meragukan adanya ahli kesehatan dan pelayanan soial yang siap membantu," kata Chan.

Kurangnya pelatihan polisi juga sebuah masalah.

"Masuk akal jika hanya petugas polisi dengan pelatihan yang tepat yang diizinkan menangani kasus seperti ini (pemerkosaan dan kekerasan seksual)... Saat ini, semua polisi dapat menangani kasus ini," kata Lu.

Kompensasi

Di bawah sistem hukum Cina, sulit bagi korban pemerkosaan dewasa membuktikan kasus mereka.

Lu berkata kecil kemungkinan polisi akan memulai penyelidikan jika tidak ada bukti, seperti pakaian dalam dan pakaian dengan sperma pelaku, disediakan. Bahkan jika korban sudah mengumpulkan bukti yang jelas, kompensasi adalah faktor lain yang membuat korban perkosaan dan keluarga enggan mencari keadilan.

"Hukum saat ini menetapkan bahwa terdakwa tidak perlu membayar sepeserpun untuk kerusakan psikologis korban," kata Lu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tang Hui (di gambar) meminta hukuman bagi pemerkosa anaknya namun justru dikirimkan ke kamp kerja, yang menimbulkan perhatian nasional.

Banyak korban memilih menyelesaikan kasus sendiri karena mereka bisa mendaptakan kompensasi lebih, namun dengan harga yang harus dibayar.

"Pelaku dapat bebas berkeliaran, Mereka dapat melakukan lebih banyak kejahatan dan membahayakan para wanita."

Tidak jelas apakah kedua episode itu yang menghentikan penayangan Xin Lao Niang Jiu, namun demikian sepertinya. Sebagian senang melihat program 'vulgar' ditutup, namun banyak yang mengatakan penghentian tersebut tidak relevan.

"Sisi gelap masyarakat masih ada, dan itu tidak akan hilang hanya karena sebuah acara televisi dihentikan. Daripada menghentikan acara, lebih baik jika kita fokus pada masalah sosial," kata pengguna Weibo Luan Zhong Dao.

Pelaporan tambahan oleh Zoe Chen