Pembunuhan WNI di Hong Kong: Psikiater paparkan kondisi kejiwaan Rurik Jutting

Bankir Inggris Rurik Jutting, terdakwa pembunuh WNI di Hong Kong Hak atas foto Reuters
Image caption Bankir Inggris Rurik Jutting, terdakwa pembunuh WNI di Hong Kong, mengaku tak bersalah.

Sidang lanjutan pembunuhan dua WNI di Hong Kong dengan terdakwa Rurik Jutting menghadirkan pakar kejiwaan untuk menganalisis alasan mantan bankir asal Inggris tersebut 'menyiksa dan membunuh' dua WNI tersebut.

Pakar kejiwaan forensik Richard James Lattham dari Inggris mewawancarai dan mendiagnosis Jutting secara langsung untuk mengungkap alasan pembunuhan yang didakwakan kepada Jutting.

Kesaksian Lattham di sidang Senin (31/10) juga mengangkat dan menganalisis hasil interogasi Jutting dengan polisi Hong Kong sehari setelah mantan bankir itu ditangkap.

"Jika Anda tanya kenapa saya membunuh mereka, itu pertanyaan yang akan selalu saya tanyakan kepada diri saya sendiri. Dia (Ningsih) tahu di mana saya tinggal, dia tahu bagaimana muka saya, dia tahu nomor telepon saya. Jadi saya harus membunuh dia kalau tidak dia pasti akan melaporkan saya ke polisi," kata Jutting dalam rekaman interogasinya dengan dua petugas polisi di Kepolisian Wan Chai pada 2 November 2014 itu.

Jutting didakwa menyiksa dan membunuh dua WNI, Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih.

Dilaporkan Valentina Djaslim dari ruang sidang di Pengadilan Tinggi Hong Kong, terdakwa Jutting turut hadir di ruang sidang didampingi petugas dari Penjara Lo Wu.

Jutting semula tampak asyik memerhatikan para hadirin yang memenuhi ruangan. Namun saat pakar kejiwaan Dr. Richard James Lattham mulai bersaksi menganalisis kondisi kejiwaannya, Jutting mulai mengerutkan dahi dan mencemberutkan bibir.

Pada rekaman interogasi polisi Hong Kong itu, Jutting menyatakan dirinya semula tak berencana menyiksa atau membunuh Sumarti Ningsih. Dia semula hanya ingin menyiksa, memerkosa, lalu menyekapnya sebagai budak seksual.

"Saya semula hanya berencana mabuk bersama dia, lalu berhubungan seks secara konsensual, yang lalu berkembang menjadi tidak konsensual, lalu saya mulai memukuli dia, saya memukulinya dengan kasar," kata Jutting dalam wawancara polisi tersebut.

Jutting menyatakan, setelah merasa tingkahnya telah keterlaluan itulah dia lantas mengambil pisau dari dapur dan mulai menggorok leher Ningsih yang saat itu sedang terikat di kamar mandi.

"Saya menggorok lehernya dua kali untuk memastikan dia benar-benar meninggal," kata Jutting.

Jutting lantas memasukkan tubuh Ningsih yang telah tak bernyawa ke dalam koper, dan meletakkannya di balkon. Dia juga sempat membuang kaus, celana pendek dan sandal jepit yang dipakai Ningsih ke tempat sampah umum apartemennya itu.

Image caption Sumarti Ningsih dalam kenangan keluarga.

Ketika polisi bertanya mengapa Jutting memasukkan tubuh Ningsih ke dalam koper, dia menjawab karena dia berencana membuangnya kemudian.

Jutting menyatakan dirinya ingin bunuh diri dengan cara lompat dari balkon apartemennya di Wan Chai tak lama setelah menyiksa dan membunuh Ningsih. Menurut Jutting, dia merekam semua aksi penyiksaan dan pembunuhan itu sebagai salah satu pesan terakhirnya.

Namun dia membatalkan rencana bunuh diri ini tanpa bisa menjelaskan alasan pasti, untuk dua hari kemudian malah mendatangi New Makati Pub mencari korban lainnya.

Jutting lantas membawa pulang Seneng Mujiasih yang bekerja sebagai pelayan di New Makati Pub, Wan Chai untuk juga disiksa dan digorok lehernya.

"Kalau Anda bertanya kenapa saya juga membunuh dia, saya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Saya hanya berpikir itu adalah pilihan yang paling tepat untuk dilakukan saat itu," kata Jutting di rekaman tersebut.

Psikiater Richard James Lattham kepada sidang menyatakan rekaman interogasi Jutting ini menunjukkan tanda-tanda penderita kelainan kepribadian narsisme, penyuka kekerasan seksual, ketergantungan alkohol dan narkoba serta kelainan kejiwaan.

Lattham menyoroti bagaimana Jutting dengan tenang duduk dan menceritakan secara detil semua tindakan penyiksaan dan pembunuhan yang dilakukannya terhadap Ningsih dan Seneng kepada polisi.

Jutting juga menelepon sendiri polisi untuk mengadukan perbuatannya, setelah merasakan ilusi bahwa ada sekelompok orang memperhatikan dirinya dari arah balkon tetangga.

Ketakutan perbuatannya ketahuan tetangga, Jutting menyatakan dia akhirnya duluan menelepon sendiri polisi.

Jutting sempat berteriak-teriak di balkon sambil menyatakan akan menyerahkan diri saat petugas polisi datang. Mantan bankir ini tak mengenakan selembar pakaian apa pun dan terus mondar-mandir gelisah di apartemennya yang telah berbau menyengat saat itu.

Mengaku diperkosa saat masih kanak-kanak

Kepada Lattham, Jutting bercerita bahwa dirinya pernah diperkosa saat masih kanak-kanak. Dari sinilah, Jutting beranggapan kegemarannya akan seksual yang sadistik bermula.

Lalu saat berusia remaja, Jutting berkisah kepada Lattham, dirinya beberapa kali terlalu mabuk untuk dapat menolak perbuatan seksual yang sebenarnya tak diinginkannya.

Selain itu, Jutting juga bercerita bahwa saat masih berusia 16 tahun dia menyaksikan ayahnya mencoba bunuh diri.

"Sejarah keluarga, dan pengalaman masa kecil ini tentu dapat berakibat fatal di kemudian hari, namun dia menceritakannya seakan-akan semua itu OK," kata Dr. Latthem di sidang.

Hak atas foto AFP
Image caption Sumarti Ningsih ditemukan dengan leher tersayat.

Menurut Lattham, Jutting menderita kelainan kepribadian narsisme di mana dirinya merasa lebih brilian dan hebat dibandingkan orang lain. Lalu saat menyadari kenyataan hidup yang sebenarnya, Jutting berusaha melupakannya dengan alkohol serta kokain.

Namun dalam sidang, Lattham menolak klaim bahwa semua kelainan itu menyebabkan Jutting tak mampu mengendalikan diri dan akhirnya membunuh Ningsih serta Seneng.

"Tidak, saya tetap tidak bisa beranggapan bahwa semua kelainan itu yang bertanggungjawab mengakibatkan tindakan pembunuhan," kata Lattham.

Lattham juga menolak klaim pembela bahwa alkohol dan kokain telah membuat Jutting tak mampu mengendalikan dirinya sehingga menyiksa dan membunuh Ningsih dan Seneng.

"Tidak, saya juga tidak bisa beranggapan demikian, karena dia mampu, dan bukti-bukti juga menunjukkan dia mampu merencanakan pembunuhan itu," kata Lattham.