Bankir Inggris dengan 'riang' siapkan alat untuk bunuh dua WNI di Hong Kong'

Bankir Inggris menyiapkan pembunuhan WNI di Hong Kong dengan riang Hak atas foto AFP
Image caption Rurik Jutting 'tampak gugup' saat rekaman diputar di persidangan.

PERINGATAN: BERITA INI MENGANDUNG PAPARAN KEKERASAN. Sidang lanjutan kasus pembunuhan berencana yang diduga dilakukan Rurik Jutting terhadap dua warga Indonesia yaitu Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih di Hong Kong, menunjukkan rekaman video bagaimana terdakwa 'dengan riang membeli dan mempersiapkan alat-alat pembunuhan' beberapa hari sebelumnya.

"Apa ya, efeknya, jika saya menggunakan ini?" kata Jutting sambil menyoroti palu, kemudian pisau dapur dan obor berbahan gas di rekaman yang dibuatnya sendiri dengan iPhone tersebut.

Dilaporkan oleh wartawan di Hong Kong, Valentina Djaslim dari ruang sidang, bahwa terdakwa Jutting tampak gugup saat rekaman diputar.

Dia menggigiti kuku dan pena yang dipegangnya, untuk kemudian memanggil salah seorang staf pembela. Jutting berbisik-bisik sambil menunjuk monitor dengan muka serius.

Di rekaman itu, Jutting 'dengan nada riang' menunjukkan beberapa mainan seks dan tali yang baru dia beli dari sebuah toko seks di Lan Kwai Fong, Hong Kong.

Mantan bankir berkewargaan Inggris tersebut lantas berbicara bagaimana dia ingin menggunakan mainan seks itu untuk menyiksa bahkan membunuh perempuan. Rekaman itu dibuat dengan berlatar belakang musik.

"Apakah ini tidak menunjukkan bahwa sepertinya dia sedang berencana melukai orang dengan semua itu, dokter?" tanya Jaksa kepada saksi ahli kejiwaan forensik Dr. Richard James Lattham di sidang, Selasa (01/11).

Hak atas foto KELUARGA SUMARTI NINGSIH
Image caption Sumarti Ningsih adalah ibu seorang anak dari satu desa di Cilacap, Jawa Tengah.

Jaksa juga mengangkat catatan transkrip interogasi polisi dengan Jutting pada 2 November 2014, tentang bagaimana Jutting menyatakan dia sengaja menggunakan kokain agar bisa melakukan pembunuhan tersebut.

Sempat terjadi perdebatan di sidang antara Jaksa dengan Dr. Lattham tentang apakah Jutting sadar dan mampu mengendalikan dirinya saat melakukan pembunuhan tersebut atau tidak.

Saksi ahli Dr. Lattham berkali-kali menyatakan bahwa Jutting sebenarnya tak merencanakan membunuh Ningsih pada awalnya, baru belakangan dia menghabisi nyawa ibu beranak satu itu.

Jika kedelapan juri dapat diyakinkan bahwa Jutting melakukan pembunuhan hanya akibat pengaruh kelainan kepribadian, alkohol dan kokain dan bukannya direncanakan, maka warga Inggris ini bisa mendapat hukuman lebih ringan untuk pidana pembunuhan tak berencana.

Jaksa kemudian mengangkat beberapa pernyataan Jutting di rekaman iPhonenya saat menyiksa Ningsih. Ia beberapa kali mengumpat dan memarahi Ningsih yang dia anggap terlalu banyak bergerak saat diikat.

"Apa kamu ingin saya memukulmu? Kalau kamu jawab iya, saya akan pukul sekali. Jika kamu jawab tidak, saya pukul dua kali!" jerit Jutting. Sementara suara Ningsih hanya terdengar sebagai gumaman samar.

Sidang ini untuk pertama kalinya menayangkan gambar utuh rekaman Jutting usai menggorok leher Ningsih kepada pengunjung sidang. Sebelumnya, tayangan gambar hanya ditunjukkan kepada para juri, dan hadirin di sidang hanya mendengarkan suara saja.

Hak atas foto AP
Image caption Warga RI di Hongkong berunjuk rasa menuntut keadailan atas pembunuhan dua rekan mereka.

Di rekaman itu, Jutting tampak berbicara dengan suara terengah-engah, lalu melepas kacamatanya sambil menunjukkan jemari tangan yang gemetar.

"Nama saya Rurik Jutting. Saya baru saja selesai membunuh wanita ini lima menit yang lalu. Oh Tuhan, saya sebenarnya bisa membatalkannya. Nama dia Alice. Saya rasa itu bukan namanya sebenarnya (Jutting terkekeh). Saya tahu alamat dia. Dia dari Indonesia, dia 23 tahun, dan baru berada di sini beberapa minggu. Sebelum membunuhnya, saya menyiksa dia, saya menyiksa dia dengan parah," kata Jutting di rekaman itu.

Jutting lantas menunjukkan tubuh telanjang Ningsih yang tergeletak bersimbah darah di kamar mandinya.

Muka Ningsih menghadap lantai dan lehernya telah tergorok. Di rekaman interogasi polisi Hong Kong, Jutting kemudian memeragakan cara dia menggorok leher Ningsih dengan pisau yang diambil dari dapurnya.

"Sekali lagi, Dokter, apakah semua itu tidak menunjukkan bahwa terdakwa memiliki kemampuan mengendalikan dirinya?" kata Jaksa kepada saksi ahli Dr. Lattham.

Namun Dr. Lattham tetap bersikeras bahwa terdakwa Jutting tampak tidak berniat menghabisi nyawa Ningsih pada mulanya, namun hanya berniat mendominasi dengan cara menyiksa wanita tersebut.

Pembunuhan terjadi saat Jutting tak lagi bisa mengendalikan dirinya, katanya.

Dr. Lattham juga menyatakan bahwa Jutting secara sadar mengambil keputusan menggunakan alkohol dan kokain pada awalnya, namun kemudian tak berdaya untuk tidak terus menambah dosisnya sampai saat pembunuhan terjadi.

Pengadilan akan dilanjutkan dalam beberapa hari ini, antara lain untuk menentukan apakah Jutting cukup waras atau tidak untuk mempertanggungjawabkan pembunuhan atas Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih.