Apa yang terjadi jika calon Republik, Donald Trump, kalah dalam pilpres Amerika Serikat?

trump Hak atas foto Getty Images

Seorang pria telah membuat pemilihan presiden Amerika Serikat tahun ini menjadi yang paling luar biasa, kata wartawan BBC Mark Mardell.

Disebut-sebut sebagai sebuah persaingan ketat, demokrasi dalam bentuk yang paling menggetarkan dan memalukan.

Banyak lumpur dilemparkan, lebih dari yang terjadi pada olahraga truk besar Amerika dengan ban besar di lapangan lumpur Georgia.

Ini adalah pemilunya Trump, bahkan jika dia kalah. Terutama jika dia kalah.

Kekuatan yang dia ciptakan dan himpun tidak akan menghilang. Dia merupakan penjelmaan sebuah perasaan yang menjadi sebuah gerakan.

Hal yang paling mengejutkan terkait Donald Trump bukanlah terkait dengan seberapa luar biasanya, tetapi seberapa jauh dirinya menjadi bagian dari Amerika pada umumnya.

Pihak-pihak yang menjadi berita utama beberapa hari lalu, yang mengancam dilakukannya revolusi berdarah dan pawai di Washington jika Hillary Clinton menang, sebenarnya dapat tidak diperhatikan.

Tetapi apa yang mereka teriakkan telah menyampaikan perasaan sesama pendukung Trump yang lebih lunak.

Sementara pembicaraan bahwa kemenangan atas dasar satu suara adalah suatu kemenangan, hanya setengahnya benar.

Menang dan kalah dalam pertempuran pada perang berlangsung selama bertahun-tahun. Di Inggris, ungkapan "Brexit berarti Brexit" digunakan untuk mendorong Remainers agar pergi dan menutup mulut.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kalau pun nanti Trump kalah, gagasan dan visi ia usung diperkirakan tak akan langsung tenggelam.

Tetapi orang Amerika yang dikalahkan tidak akan pergi dengan diam-diam karena tingginya perasaan ketidakadilan dan kemarahan.

Jika Trump kalah, kemungkinan dia akan tetap protes, mengajukan gugatan dan mengeluarkan peringatan.

Dia kemungkinan akan mendirikan klub Trump di seluruh Amerika untuk melanjutkan perjuangannya atau mendanai sebuah stasiun televisi.

Tetapi kalau pun dia menghilang dengan kerendahan hati, Trump akan tetap meninggalkan sebuah warisan yang dapat mengubah politik Amerika.

Meskipun demikian, serangan mendasarnya kepada kelompok atas yang menggunakan masyarakat umum sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru.

Di tahun 1891, People's Party memperjuangkan kepentingan "orang kebanyakan" dengan menentang "pengaruh kekuasaan" yang mendominasi politik pada umumnya dan menuntut pengusiran pekerja Cina.

Jika Anda hanya akan membaca satu buku politik tahun ini, bacalah The Populist Explosion karya John B Judis yang dengan cerdas menjelaskan berbagai hal yang saling berkaitan untuk menjelaskan berbagai peristiwa.

Hak atas foto keystone
Image caption Bakal calon presiden empat kali, George Wallace, terkenal akan dukungannya terhadap pemisahan.

Pada tahun 1964, wakil presiden Partai Republik, Barry Goldwater, berkampanye menentang hak sipil, melawan kelompok elite liberal di partainya dan menegaskan "ekstremisme untuk membela kebebasan bukanlah suatu kesalahan".

Dia kalah, tetapi telah membantu perubahan di dalam partainya.

Tetapi populisme kelompok kanan yang lebih modern di Amerika kemungkinan dimulai mantan Demokrat, George Wallace, yang berkampanye sebagai calon independen pada tahun 1968.

Dia sangat membela dilanjutkannya pemisahan warga kulit hitam dan putih, digabungkan dengan desakan dukungan ekonomi bagi kelompok pekerja kulit putih.

"Terjadi penentangan di negara ini terhadap pemerintah besar," katanya.

"Jika seorang politikus menentangnya, banyak dari mereka akan dikalahkan pria yang biasa-biasa saja ini ada di jalan: pria ini di pabrik tekstil, pria di tambang baja."

Dia kalah, tetapi pendukungnya tidak menghilang. Dan pekerja di pabrik tekstil dan baja mengalami penurunan standar kehidupan dan kedudukan sosial.

Hak atas foto Empics
Image caption Pat Buchanan gagal memenangkan pencalonan Partai Republik tetapi tetap mempengaruhinya.

Selama bertahun-tahun, Pat Buchanan yang berkali-kali berusaha menjadi calon Republik tetapi akhirnya menjadi calon Reform Party di tahun 2000, diserang bukan hanya oleh perusahaan transnasional dan persaingan dunia, tetapi juga oleh kesepakatan dagang yang menguntungkan pekerja Meksiko.

Anda sepertinya telah mengenalnya?

Saat itu, pabrik baja dan tekstil telah ditutup dan kebanyakan buruhnya sudah tidak memiliki pekerjaan. Buchanan kalah, tetapi banyak orang mendengarkannya.

Para pendukung dan gerakan itu sendiri berubah dan bertumpang tindih. Kelompok kanan Kristen menjadi menyatu dan mengecil.

Hak atas foto Huw Evans picture agency
Image caption Mantan Gubernur Alaska dan tokoh Tea Party, Sarah Palin, menjadi idola pendukung Partai Republik yang tidak puas.

Setelah pemilihan Barack Obama, Tea Party menciptakan sebuah gerakan yang menyatukan berbagai pandangan yang berbeda terkait penyelamatan bank, pajak dan pemerintahan yang besar ukurannya.

Trump mengedepankan berbagai kecemasan ini bagi Partai Republik, mengaitkan penentangan terhadap perdagangan bebas dunia dan meluasnya imigrasi, dengan ketidaknyamanan warga kulit putih terhadap presiden kulit hitam dan peningkatan status dan kekuasaan kelompok minoritas.

Tekstil dan baja masih ada dalam ingatan dan anak-anak para buruh yang kehilangan pekerjaan, terus berjuang. Dan bukan hanya ini saja.

Kebanyakan kelas menengah Amerika dengan gaji seadanya dibebankan besarnya biaya universitas, tagihan ongkos kesehatan dan berisiko mengalami masa tua yang bermasalah.

Kehidupan sepertinya tidaklah membaik bagi banyak orang.

Hak atas foto Empics
Image caption Donald Trump aktif berkampanye di daerah "karat" Amerika.

Ditambah lagi dengan perubahan yang dialami Amerika dan keyakinan bahwa pajak hanyalah untuk membantu imigran gelap.

Trump langsung menarik perhatian orang-orang ini.

Donald Trump adalah wakil Amerika, tukang jual obat, pembangkit semangat, penjual minyak ular.

Banyak orang liberal lupa bahwa di zaman Wild West sebagian membeli minyak ular dari gerobak. Saat Anda telah mencoba semua obat, mengapa tidak mencobanya? Apa risikonya? Ini sama dengan politik.

Dan hal itu bukan hanya dilakukan kelompok kanan.

Presiden Clinton kedua kemungkinan akan mengalami dorongan yang sama ke kiri.

Kelompok orang yang mendukung Occupy dan Bernie Sanders kemungkinan membenci Trump, tetapi mereka menyokong kecamannya terhadap kemapanan dan serangannya terhadap kesombongan orang kaya dan berkuasa.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kebijakan luar negeri Hillary Clinton tidak disokong sejumlah pendukung Partai Demokrat.

Mereka akan mendukung pandangan bahwa AS berisiko mengalami perang dunia ketiga jika Clinton meningkatkan aksi militer di Timur Tengah dan melawan Rusia.

Hal ini kemungkinan tidak membuatnya cemas. Tetapi jika Clinton menang, keabsahannya telah dipertanyakan lewat tuduhan dia berhasil karena dia bukan Donald Trump.

Partai Republik akan menghadapi peningkatan masalah yang sampai sejauh ini masih bisa dihindari beberapa kali.

Di Inggris, satu hari setelah pemilihan, partai yang kalah menghadapi pilihan mendukung atau memberhentikan pemimpinnya.

Hal ini bukan hanya perdebatan, tetapi suara tentang dimana kesalahan terjadi. Terlalu ke kiri atau terlalu ke kanan, terlalu banyak kebijakan ini atau terlalu sedikit yang lainnya.

Di Amerika keadaannya sebetulnya tidak terlalu membingungkan.

Republik tidak akan harus memilih calon baru presiden sampai tahun 2020 dan tidak seorang pun dapat memperkirakan siapa orangnya.

Sebelum saya menjadi editor BBC North Amerika, saya menanyakan beberapa diplomat, politikus dan wartawan tentang lawan Obama pada tahun 2012.

Tidak seorang pun menjawab, "Mitt Romney". Tidak seorang komentator pun memimpikan Trump hadir di tahun 2016.

Jadi pihak Republik mempunyai waktu.

Tetapi pada akhirnya mereka tetap harus mengambil keputusan. Dan ini bukannya merangkul retorika populis. Banyak orang sudah melakukannya. Tetapi Trump lebih baik dibandingkan mereka dalam melakukan hal ini.

Hak atas foto Getty Images

Mereka harus memutuskan apakah akan menerapkan kebijakan yang sejalan dengan penolakan konservatif terkait dengan globalisme dan liberalisme ekonomi, yang akan menakutkan sisa pendukung di Wall Street dan bisnis besar.

Tetapi jika mereka tidak melakukannya, meskipun sistem dua partai Amerika sangat kuat, muncul kemungkinan gerakan kemarahan yang dapat meluas di luar perbatasannya, mengalir entah kemana.

Pendekatan kelompok politik konservatif mapan terhadap Tea Party sebenarnya adalah panduan orang orang bodoh tentang bagaimana untuk tidak melakukannya.

Sebagian karena sistem pemilihan primary yang memungkinkan "penghapusan pemilihan" calon moderat, partai menjadi diambil alih para radikal yang kemudian menjadi kelompok pada umumnya.

Sepertinya terjadi persaingan tanpa akhir para calon pada pelelangan, saling mengalahkan yang lainnya dengan marah, bergerak semakin ke kanan.

Agaknya tidak disediakan pemikiran terkait strategi pemilihan yang melebihi dasar pegiat atau pembentukan persekutuan dengan pihak yang tidak terlalu militan, apalagi terkait dengan mengubah kemarahan ideologis menjadi platform kebijakan yang dapat dipahami.

Trump membuat masalah ini semakin parah dengan menciptakannya sebagai sebuah strategi yang akan berkesinambungan.

Untuk sementara hal ini memang tidak akan berpengaruh, cukup dengan mengatakan, "Tidak, tidak, tidak" terhadap Gedung Putih-nya Clinton.

Tetapi sebenarnya hanya terdapat sedikit kemenangan saat menjadi kelompok oposisi yang selalu marah, yang sebetulnya tidak memiliki pemikiran tentang bagaimana menerapkan kekuasaan.

Berita terkait