Dari Aleppo ke Belfast: Kisah seorang pengungsi

aleppo Hak atas foto AP
Image caption Seorang pengungsi menceritakan perjalanan melintasi Eropa ke Belfast untuk membangun kembali keluarganya.

Nama keluarga Mahmood, Halaby, berarti "dari Aleppo" dalam bahasa Arab. Wartawan BBC Kelly-Leigh Cooper menyampaikan kisah seorang pengungsi Aleppo,Suriah yang akhirnya mencapai Belfast, Irlandia Utara.

Setelah menempuh 3.000 mil atau hampir 5.000 km dari negara Timur Tengah tersebut, namanyalah satu-satunya hal yang dibawanya dari rumah.

Dia sudah tidak bertemu istri dan dua anak laki-lakinya selama 17 bulan, tetapi minggu ini mereka bergabung untuk membangun kembali kehidupan mereka di kota asing, Belfast.

Mahmood mengatakan kepada saya, "Jika Anda tetap di Suriah, Anda meninggal atau Anda berperang. Anda tidak memiliki pilihan."

Bekas kota mereka, Aleppo, sebelumnya adalah kota terbesar Suriah dan pusat kegiatan ekonomi negara itu.

Hak atas foto Reuters
Image caption Aleppo menjadi daerah menentukan dalam perang saudara di Suriah.

Sekarang yang tersisa hanya puing-puing masa lalu, tempat tersebut hancur karena lima tahun perang saudara.

Keluarga Mahmood tinggal di daerah pendukung Presiden Assad, tetapi karena perang terus berlanjut, semakin sulit bagi dirinya untuk mencapai bengkel kayu di wilayah pemberontak.

Pada salah satu perjalanan ini, Mohammed, sepupunya yang berusia 18 tahun, terbunuh penembak jitu.

Risiko hidup

Seperti kebanyakan yang lainnya, keluaganya terpaksa tinggal di rumah tanpa pekerjaan selama tiga tahun, sementara ekonomi lumpuh dan bom berjatuhan di sekitar rumah.

Ketika ditanyakan apakah dia memiliki saudara kandung, Mahmood menjawab, "Saya memiliki lima saudara laki-laki dan enam saudara perempuan tetapi jika keluarga Anda sebesar itu, Anda kehilangan sebagian besar dari mereka."

Dia menjual mesin miliknya dan melarikan diri dengan keluarganya ke Gaziantep, Turki dimana dia tinggal di dapur rusun kecil iparnya.

Mahmood kemudian memutuskan untuk mengambil risiko menyeberangi Laut Tengah, untuk menghidupi keluarganya di Eropa.

Dia membayar penyelundup £800 atau Rp13 juta per orang di perahu karet untuk 20 orang.

Hak atas foto AP
Image caption PBB menyatakan 2016 adalah tahun paling mematikan bagi pengungsi yang menyeberang ke Eropa.

Lima puluh lima pengungsi pada akhirnya memadati kapal, termasuk wanita dan anak-anak, tetapi Mahmood menolak membawa keluarganya karena perjalanan tersebut berisiko.

Melakukan perjalanan melintasi Eropa, dia menghadapi lingkaran birokrasi tanpa henti dan berjalan tanpa akhir hanya dengan panduan GPS teleponnya.

Saat pertama kali berusaha memasuki Masedonia dari Yunani, dia dan sekelompok kecil pengungsi lain berjalan sejauh 48 km sampai kaki mereka berdarah.

"Tidak seorangpun membantu kami, tetapi kami memiliki mimpi," katanya. "Kami kehilangan semua uang, kami sangat lelah tetapi terus melanjutkan perjalanan."

Sama seperti ribuan orang lainnya, dia akhirnya terdampar di Calais, Perancis.

Dia hidup di sebuah tenda selama empat setengah bulan dan mengatakan dirinya mengetahui banyak orang meninggal saat berusaha menyeberang ke Inggris.

Hak atas foto AFP Getty
Image caption Hampir lima juta pengungsi meninggalkan Suriah.

Dengan menggunakan keterampilannya sebagai tukang kayu, dia membantu pembangunan masjid dan perpustakaan di sana, yang sekarang telah diratakan.

Pada akhirnya seorang penyelundup membantu menyembunyikannya di sebuah mobil menyeberang, di mana dia berada di dalamnya selama 18 jam tanpa makanan.

"Anda tidak bisa ke kamar mandi, Anda tidak bisa minum," katanya. "Saya mengetahui ini adalah kesempatan terakhir, jika saya gagal, saya tidak akan melakukannya lagi."

Ketika ditanyakan mengapa dia ingin membangun kembali kehidupan di Inggris, dia Mahmood menegaskan, "Bagi saya semua wilayah Eropa sama saja, tetapi bagi anak-anak saya disini lebih baik."

Terkait dengan kecemasan masyarakat terhadap pengungsi dan migran, dia mengatakan, "Di Suriah saya memiliki semuanya.

"Saya memiliki sebuah rumah, mobil, tempat kerja, pertanian. Kami hidup sangat nyaman, kami tidak bermimpi untuk datang ke sini.

"Orang berpikir pengungsi datang kesini untuk mendapatkan semuanya secara gratis, tetapi saya kesini karena saya ingin bekerja dan membina masa depan."

Image caption Sekitar 300 pengungsi Suriah sekarang tinggal di Irlandia Utara.

"Saya memiliki kekuatan dan keterampilan. Saya hanya harus memusatkan perhatian untuk mendapatkan pekerjaan, karena saya mengetahui diperlukan waktu yang lama sebelum perang di Suriah berakhir.

Sejak pindah ke Belfast pada bulan Desember dia mempelajari bahasa Inggris di universitas dan membantu tugas memasak, berkebun dan memperbaiki sepeda di tempat tinggalnya.

Dia membuat lelucon tentang makan fish and chips (kentang dan ikan goreng) di Ballymena saat membantu pengisian peti kemas bantuan untuk kemah darurat di Suriah dan Yunani yang sebelumnya dia tinggali.

Mahmood mengatakan dirinya kadang-kadang berjuang untuk memahami aksen Belfast, disamping pandangan setempat terhadapnya sebagai seorang pengungsi Suriah.

'Bangga menjadi orang Suriah'

"Setiap orang yang menonton berita, berpikir orang Suriah berbahaya. Jika saya menyukai bahaya, saya akan tetap disana dan berperang, bukannya datang ke sini.

"Saya kadang-kadang mendengar orang membicarakan saya dan mengatakan 'ISIS', saat saya menggunakan bahasa Arab.

"Saya orang Suriah dan saya sangat bangga. Saya tidak akan mengubah itu. Jika ini mereka permasalahkannya, itu bukan masalah saya."

Tetapi dia khawatir sejumlah pernyataan ini akan mempengaruhi anak-anaknya.

"Saya menghadapi berbagai persoalan saat melakukan perjalanan, agar anak laki-laki saya mendapatkan masa depan yang baik. Jika mereka tidak menghadapi masalah, saya akan tetap disini. Jika mereka mengalami persoalan, saya akan ke bintang atau planet lain!"

Dia gembira lamaran keluarga ke Family Reunification Scheme disetujui.

Setelah 17 bulan terpisah dan bertahun-tahun hidup dalam ketakutan, dia berharap sekarang mereka akan mulai membangun kehidupan baru di Irlandia Utara.

Topik terkait

Berita terkait