Khawatir Trump terpilih, Muslim AS ramai-ramai mencoblos

muslim amerika Hak atas foto Shamsi Ali
Image caption Muslim Amerika dalam acara parade di New York, September lalu

Muslim di Amerika Serikat diserukan agar ramai-ramai mencoblos dan 'solid dalam memberi suara' kepada calon presiden dari Partai Demokrat, karena khawatir calon dari Partai Republik, Donald Trump terpilih,.

Hal itu diungkapkan oleh imam masjid Indonesia di New York dan Washington DC.

Warga Amerika akan memilih antara Hillary Clinton dan Donald Trump dalam pemilihan presiden yang disebut oleh imam masjid Indonesia di New York, Shamsi Ali, sebagai pemilihan presiden yang 'luar biasa'.

Kampanye dua calon ini diwarnai dengan debat panas dan saling tuduh terkait sejumlah isu.

"Pemilu kali ini luar biasa. Saya melihat masing-masing komunitas kampanye besar-besaran. Komunitas Muslim misalnya bekerja sama dengan perusahaan mobil di beberapa tempat.. .untuk memberikan fasilitas gratis kepada Muslim yang ingin berangkat dan memilih," kata Shamsi Ali.

"Pemilu ini at stake (dipertaruhkan), dalam situasi yang harus diantisipasi karena adanya kandidat yang kurang bersahabat dan jelas terbuka dengan ketidaksahabatan itu (terhadap Muslim), sehingga komunitas Muslim dan inter faith partners yang punya concern yang sama (bekerja sama) agar hal ini tak terjadi," tambahnya.

Hak atas foto Shamsi Ali
Image caption Shamsi Ali (tengah) bersama para tokoh lintas agama di New York

Sementara itu imam di Imaam Centre, Washington DC, Fahmi Zubir mengatakan dalam beberapa bulan terakhir, banyak organisasi Muslim dan juga lintas agama menyerukan kepada komunitas masing-masing untuk memilih pada tanggal 8 November.

"Banyak aktivitas, seperti seminar dan aktivitas pemuda Muslim lain mengangkat bagaimana pentingnya kita vote dan antisipasi Islamofobia... yang penting kita vote dan yang penting bukan Trump," kata Fahmi.

Kerja sama dengan perusahaan transportasi

Fahmi juga mengatakan yang juga khawatir adalah komunitas agama lain seperti Yahudi, yang khawatir Islamofobia akan merambat ke kekerasan terhadap pemeluk agama lain.

Kampanye Clinton dan Trump merupakan salah satu yang terpanas dalam sejarah pemilu Amerika Serikat.

Selain suara terbanyak, pemilihan presiden Amerika Serikat menggunakan sistem yang disebut electoral college, atau sekelompok orang yang disusun berdasarkan jumlah penduduk. Secara total terdapat 538 kelompok dan untuk menang, seorang calon harus mendapatkan 270.

Sejumlah negara bagian seperti Florida, Pennsylvania dan Ohio dikenal sebagai kawasan battleground atau negara bagian yang belum menentukan pilihan.

Di negara bagian battleground ini, beberapa komunitas Muslim bekerja sama dengan perusahaan transportasi untuk memastikan mereka memilih.

"Misalnya di Pennsilvania, daerah battleground, ada kerja sama dengan perusahaan transportasi... Ini sesuatu yang baru, tahun-tahun sebelumnya tak terjadi. Ini crucial (penting) karena akan menentukan tidak saja wajah Amerika dan akan menentukan wajah dunia. Komunitas Muslim punya tanggung jawab besar untuk menentukan juga ke mana di masa depan," kata Shamsi Ali.

Bertemu Trump: 'Tak pernah lihat Muslim tersenyum'

Hak atas foto Fahmi Zubir
Image caption Fahmi Zubir (kiri) bersama anggota gerakan lintas agama di Washington DC

Imam masjid di kota New York ini pernah bertemu Trump sekitar lima tahun lalu, saat mencoba menjadi lawan Presiden Barack Obama dalam pemilihan kedua.

"Saat salam dengan saya (di Gedung Trump Centre) dia tertawa.... dan mengatakan tertawa karena tak pernah bermimpi bertemu dengan Muslim yang bisa tersenyum. Saya terkejut dan bertanya kenapa demikian," cerita Shamsi.

"Dia bilang karena itu yang dia lihat di TV, bahwa orang Muslim marah dan suka berperang. Saya katakan, saya sebelum bertemu Anda juga punya kesalahan karena saya mengira Anda sombong, setelah saya lihat di acara Apprentice. Saya ambil kesimpulan dari situ, dan saya katakan Anda juga salah karena mengambil kesimpulan terhadap 1,6 miliar (jumlah Muslim di dunia)," tambahnya.

Berita terkait