Empat petunjuk kemenangan bagi Clinton dan Trump

Clinton Trump Hak atas foto AFP
Image caption Hillary Clinton dan Donald Trump bersaing untuk menggantikan Barack Obama yang sudah dua kali menjabat sebagai presiden AS.

Indikasi paling kuat hasil pemilihan presiden di Amerika Serikat mulai diketahui hari Rabu (09/11) mulai pukul 11.00 WIB.

Meski demikian, indikasi hasil pilpres 'bisa dibaca sejak beberapa jam sebelumnya'. Dari sini akan diketahui tren suara dan siapa yang besar kemungkinan menggantikan Barack Obama: calon Demokrat Hillary Clinton atau Donald Trump dari Republik.

Berikut empat yang bisa menjadi petunjuk kemenangan, baik bagi Clinton maupun Trump:

1. Virginia

Virginia bisa dikatakan sebagai uji pertama bagi Clinton. Untuk bisa melenggang ke Gedung Putih, mantan menlu ini harus merebut 'daerah-daerah tradisional' Demokrat.

Jika ia kalah di Virginia, hasil ini bisa dibaca sebagai indikasi awal beralihnya gelombang suara ke Trump.

Kejutan di Virginia bukan sesuatu yang luar biasa. Ketika digelar pemilu sela pada 2014, petahana dari Demokrat, Senator Mark Warner, sangat diunggulkan namun akhirnya disingkirkan oleh Ed Gillespie dari Republik, dengan beda suara hanya 0,8%.

Jajak pendapat di Virginia memperlihatkan bahwa Clinton dan Trump bersaing ketat.

Trump berkampanye di sini pada Minggu (06/11) malam, sementara cawapres Clinton, Tim Kaine, turun langsung menemui warga sehari setelahnya untuk memutuskan suara Virginia mengarah ke Demokrat.

Kemenangan bagi Trump adalah kabar buruk bagi Clinton dan jika hasilnya ketat, apa yang terjadi di Virginia bisa jadi akan menjadi cerminan hasil secara nasional.

2. New Hampshire

Sampai seminggu lalu, negara bagian ini condong ke Demokrat. Sekarang beberapa jajak pendapat memperlihatkan capres Demokrat dan Republik bersaing ketat.

Pemilih di New Hampshire dikenal berpendidikan dan merupakan salah satu kalangan paling mapan di AS secara ekonomi. Angka pengangguran di sini di bawah 3% yang mengisyarakat mereka bukan pemilih natural Trump.

Meski begitu, visi antikemapanan yang disuarakan Trump mungkin menjadi daya tarik bagi pemilih di negara bagian ini.

Pemilih di sini juga masuk dalam kategori muda dan idealistik. Merekalah yang menjadi penentu kemenangan Bernie Sanders atas Clinton dalam primary Partai Demokrat Februari lalu.

Jika para pemilih muda memutuskan tidak menggunakan hak suara atau memilih calon alternatif, itu berarti kemenangan bisa mengarah ke Trump.

3. Exit poll

Ketika TPS di Pantai Timur ditutup, akan didapat gambaran yang makin jelas tentang hasil pilpres AS, setidaknya siapa yang unggul dan meninggalkan pesaingnya.

Dengan exit poll akan diketahui apakah suara warga AS keturunan Amerika Latin di Florida, Georgia, dan North Carolina cukup untuk mempengaruhi hasil pilpres.

Akan diketahui juga apakah komunitas kulit hitam memilih tinggal di rumah karena Barack Obama tidak lagi dimajukan oleh Demokrat.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian analis adalah kecenderungan suara perempuan berkulit putih yang menikah, yang secara tradisional cenderung berhaluan kanan secara politik.

Apakah mereka kali ini meninggalkan Trump karena berbagai komentar yang ia sampaikan selama kampanye?

Jika demikian keadaannya, perubahan ini bisa sangat merugikan Trump.

4. Situasi di wilayah barat

Seandainya Trump menang di New Hampshire dan negara-negara bagian di timur, yang menjadi medan persaingan ketat Clinton-Trump, maka perhatian akan tertuju ke barat.

Akan diikuti dengan cermat hasil di Nevada dan Arizona. Keduanya bisa menentukan siapa yang menang dalam pertarungan 2016.

Jajak pendapat menunjukkan Clinton unggul di Nevada, antara lain berkat dukungan warga keturunan Amerika Latin.

Trump di sisi lain berharap bisa menyapu suara warga kulit putih, yang konservatif dan tinggal bukan di kawasan perkotaan.

Faktor pemilih dari Amerika Latin bisa merugikan Trump karena berbagai pernyataan yang menyerang imigran dari Meksiko.

Topik terkait

Berita terkait