Siapa yang memilih Donald Trump sebagai Presiden AS?

pilpres as Hak atas foto KENA BETANCUR/Getty/AFP
Image caption Sejumlah pemilih pada pilpres AS mengaku tidak puas pada salah satu kandidat, namun tetap memilihnya.

Selama masa kampanye, berbagai jajak pendapat menyiratkan bahwa sebagian besar sokongan kepada Trump berasal dari kalangan pria dan kulit putih.

Hal itu kembali ditunjukkan seusai pemungutan suara pada pilpres AS, sebagaimana tertera dalam hasil jajak pendapat Edison Research for the National Election Pool, yang merupakan konsorsium ABC News, kantor berita Associated Press, CBS News, Fox News, dan NBC News.

Image caption Pemilih pada pilpres AS berdasarkan jenis kelamin

Hasil survei itu memperlihatkan bahwa 53% pria mendukung Trump, sedangkan 41% menyokong Clinton. Persentase tersebut berbanding terbalik saat jajak pendapat melakoni survei terhadap kaum perempuan.

Di ranah ras, Trump memperoleh dukungan 58% warga kulit putih. Di lain pihak, Clinton dipilih 37% warga kulit putih. Makna perolehan ini cukup signifikan mengingat 70% para pemilih adalah warga kulit putih.

Secara khusus, 53% perempuan kulit putih mendukung Trump, sedangkan 43% memilih Clinton.

Situasi berbeda tampak ketika melihat sokongan warga kulit hitam kepada kedua kandidat. Clinton justru mendulang perolehan suara mayoritas sebesar 88%, sedangkan Trump 8%.

Di kalangan warga Hispanik, 65% mendukung Clinton dan 29% menyokong Trump. Meski demikian, perolehan suara warga Hispanik untuk Trump lebih besar ketimbang kandidat presiden AS dari Partai Republik pada pilpres 2012 lalu, Mitt Romney (29%). Padahal, Trump telah mengeluarkan komentar kontroversial tentang Meksiko dan memiliki wacana untuk membuat tembok perbatasan antara AS dan Meksiko.

Image caption Pemilih pada pilpres AS berdasarkan ras

Pendapatan rendah

Beranjak ke pemilih berdasarkan pendapatan, Clinton lebih banyak disokong pemilih yang berpendapatan rendah. Sebanyak 52% pemilih yang pendapatannya di bawah US$50.000 setahun menyokong Clinton, sedangkan 41% mendukung Trump.

Adapun di antara pemilih yang pendapatannya lebih dari US$50.000 setahun, 49% memilih Trump dan 47% memilih Clinton.

Bagaimanapun perolehan suara Clinton dari kalangan pemilih berpendapatan US$30.000 setahun masih jauh di bawah perolehan suara Presiden AS Barack Obama pada pilpres 2012. Kala itu, Obama mendapat sokongan 63% dari kalangan tersebut.

Image caption Pemilih pada pilpres AS berdasarkan usia

Dukungan untuk Clinton dari kalangan pemilih yang tingkat pendidikannya terbatas pada taraf SMA juga melorot. Dibandingkan Obama yang empat tahun lalu diusung 64% para pemilih dari kalangan ini, Clinton cuma menerima 45%. Adalah Trump yang justru mendulang perolehan suara mayoritas 51% dari pemilih berpendidikan SMA.

Di kalangan pemilih dari kawasan perdesaan, Trump populer dengan suara sebanyak 62%. Sebaliknya, Clinton unggul di wilayah perkotaan dengan perolehan suara 59%.

Ditinjau dari pemilih berdasarkan usia, Clinton lebih populer di kalangan warga usia muda dan Trump unggul di kalangan berusia 45 tahun ke atas.

Tidak suka Trump, tapi memilih Trump

Salah satu kunci kemenangan Trump yang tercermin dalam jajak pendapat seusai pemungutan suara adalah dia tetap dipilih oleh warga yang tidak suka padanya.

Sebanyak 18% dari seluruh responden yang merasa Trump tidak kompeten untuk menjadi presiden, tetap memilih Trump. Begitu pula 20% dari seluruh responden yang merasa dia tidak memiliki temperamen yang patut untuk menjadi presiden.

Hak atas foto JASON CONNOLLY/AFP/Getty
Image caption Mayoritas pemilih Donald Trump pada pilpres AS adalah warga kulit putih.

Kemudian 2% responden yang merasa takut jika Trump menang pilpres AS, tetap memilih Trump. Dibandingkan dengan Clinton, hanya 1% dari seluruh responden yang tetap memilih mantan Ibu Negara itu walau takut jika dia menang pilpres AS.

Bagaimanapun, jajak pendapat ini sangat sulit menemukan sampel yang mewakili 120 juta pemilih. Survei dilakukan dengan menanyakan hampir 25.000 pemilih sehingga hasilnya sebaiknya digunakan secara hati-hati.

Total persentasenya juga tidak secara penuh mencapai 100% karena tidak semua orang menjawab semua pertanyaan.

Berita terkait