Bagaimana mengatasi hasil pemilu yang tak sesuai harapan?

Kecewa pemilu Hak atas foto Getty Images
Image caption Hasil pemilu atau referendum yang tak sesuai harapan bisa membuat seseorang terpukul dan sangat sedih.

Banyak yang terpukul dan sedih ketika referendum di Inggris pada Juni lalu dimenangkan oleh kubu yang menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa (biasa disebut Brexit).

Persaan yang sama, mungkin dengan derajat yang lebih parah, terjadi saat ini di Amerika Serikat.

Para pendukung capres Partai Demokrat, Hillary Clinton, terpukul setelah mantan menteri luar negeri itu di luar dugaan kalah dari Trump di pemilihan presiden.

Bagaimana mengatasi pemungutan suara yang hasilnya tidak sesuai dengan harapan?

Mungkin warga di Amerika yang kecewa bisa belajar dari para pendukung keanggotaan Inggris di Uni Eropa yang kalah dalam referendum Juni silam.

"Awalnya saya sangat sedih... saya tak pernah membayangkan hasil referendum seperti itu," ungkap Ravi Palanisamy kepada wartawan BBC, Harry Low.

"Pagi itu saya tersadar bahwa negara tempat saya tinggal ternyata tidak progresif, tidak toleran, tidak multiras, dan tidak berpikir jauh ke depan. Nilai-nilai itu hanya ada di London, bukan di Inggris secara keseluruhan," urai Palanisamy.

Seiring dengan berlalunya waktu, ia mengaku makin terbiasa dengan kenyataan baru tersebut.

"Ini seperti proses menyembuhkan luka. Ada tahapannya, pertama terpukul, tak percaya, kemudian beberapa hari berikutnya saya menjadi paham setelah banyak membaca hal-hal yang terkait dengan Brexit," katanya.

Dari membaca itulah ia bisa memahami orang-orang yang berpandangan Inggris lebih baik keluar dari Uni Eropa. Dari sini ia juga menjadi lebih paham bahwa di luar sana ada begitu banyak pandangan atas satu masalah.

Senangkan suasana hati

Hak atas foto Ravi Palanisamy
Image caption Ravi Palanisamy mempertimbangkan untuk meninggalkan Inggris dan menetap di Swedia.

Meski demikian ia tetap mengakui bahwa Brexit adalah pengalaman yang sangat menyakitkan dan menyamakannya dengan anggota keluarga yang meninggal dunia.

Selain membaca ia juga makin sering menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekatnya dan ikut serta dalam berbagai kegiatan komunitas lokal, tapi juga mempertimbangkan untuk meninggalkan Inggris.

"Saya mungkin akan pindah ke Swedia atau ke negara-negara yang lebih progesif," kata Palanisamy.

Luke Jones, yang juga pendukung Inggris untuk tetap berada di Uni Eropa, memanfaatkan kerja dan jalan-jalan untuk melupakan Brexit.

"Saya banyak bicara dengan karyawan muda di kantor yang sangat heran dengan Brexit," jata Jones.

"Saya juga berlibur dan bertemu dengan orang-orang yang masih tetap suka dengan Inggris meski sekarang dalam proses untuk meninggalkan Uni Eropa."

"Sepertinya, sebagai sebuah merek, Inggris tetap dianggap berharga oleh masyarakat internasional," katanya.

Menurut psikolog James Oliver salah satu hal utama yang harus disadari oleh orang-orang sangat kecewa dengan hasil pemilu atau referendum adalah dengan menyadari bahwa hasil dan berbagai dampaknya di luar kontrol mereka.

"Lakukan hal-hal yang membuat suasana hati menjadi lebih enak, misalnya yoga, menonton video atau film, atau bercinta," kata Oliver.

"Dan yang terpenting adalah menyadari bahwa pendapat atau keputusan mungkin saja bukan yang terbaik, atau ternyata banyak orang yang tak sama posisi dengan kita," katanya.

Berita terkait