Televisi Tunisia menayangkan kesaksian korban kekerasan

Hak atas foto AFP
Image caption Para korban penyiksaan berbicara dalam sebuah siaran langsung pada hari Kamis.

Sebuah stasiun televisi Tunisia menyiarkan secara langsung ungkapan kesedihan rakyat Tunisia yang mengalami penderitaan akibat kekerasan di bawah pemerintahan otoriter selama beberapa dasawarsa.

Acara yang digagas oleh sebuah organisasi Truth and Dignity Commission itu berlangsung pada Kamis malam dan bertujuan untuk meredakan ketegangan yang timbul dari berbagai pelanggaran di masa lalu.

Tercatat ada lebih dari 62.000 insiden diantaranya penyiksaan dan pemerkosaan yang dilaporkan ke komisi itu sejak tahun 2013.

Tunisia menjadi sebuah negara demokrasi setelah Presiden Zine el-Abidine Ben Ali digulingkan pada tahun 2011.

Komisi tersebut menyelidiki berbagai laporan penyiksaan polisi, korupsi dan pembunuhan selama periode 50 tahun sejak kemerdekaan.

Para terduga penyiksaan termasuk para pejabat negara yang sebelumnya berkuasa di Tunisia dan para petinggi keamanan.

Seperempat dari dari warga yang diduga menjadi korban kekerasan adalah para perempuan, mereka mengeluh tentang kekerasan seksual yang sebelumnya menjadi sebuah hal tabu di Tunisia.

Ibu dari salah seorang pengunjuk rasa yang ditembak oleh pasukan keamanan pada tahun 2011, Ourida Kadoussi, memulai kesaksian dalam tayangan televisi tersebut.

"Mereka membunuh anak-anak kami. Kami tidak memperoleh hak-hak kami," katanya sembari memohon kebebasan dan kehormatan.

Presiden komisi Truth and Dignity, Sihem Ben Sedrine, yang membuka forum itu mengatakan: "Tunisia tidak akan menerima lagi pelanggaran hak asasi manusia mulai hari ini. Ini adalah pesan dari Tunisia."

Hak atas foto AFP
Image caption Kepala komisi Truth and Dignity mengatakan tujuan dari dengar pendapat ini adalah untuk menuntut pertanggungjawaban.

Kelompok pegiat hak asasi manusia yang berbasis di London, Amnesty International menyambut baik kesaksian ini, mereka mengatakan para korban "mungkin akhirnya berkesempatan untuk memperoleh hak mereka demi terpenuhinya kebenaran ".

Namun, kelompok pegiat itu juga mengatakan mereka belum bisa memastikan apakah keadilan akan tuntas.

"Tes yang sesungguhnya akan dihadapi Tunisia dalam transisi proses keadilan, bagaimanapun, ini pada akhirnya akan menyebabkan tuntutan pidana atas kejahatan selama beberapa dasawarsa terakhir."

Wartawan BBC Rana Jawad di Tunis, mengatakan masing-masing korban penyiksaan diberi waktu sampai satu jamuntuk menceritakan kisah mereka di depan panel komisaris, dan penonton termasuk perwakilan dari kelompok-kelompok sipil dan para pengamat internasional.

Komisi itu berharap agar para korban akan mengampuni para terduga pelaku yang menyiksa mereka. Tapi banyak korban yang telah berbicara kepada BBC menuntut kompensasi keuangan dan mengatakan para terduga harus bertanggung jawab di pengadilan.

Komisi The Truth and Dignity mengatakan para terduga pelaku mungkin juga akan berkesempatan untuk memberikan kesaksian di depan publik dalam waktu dekat. Dua acara tambahan dengar pendapat di televisi ini dijadwalkan akan tayang pada bulan Desember dan Januari.

Hak atas foto AFP
Image caption Para kerabat korban menginginkan keadilan.

Pemberontakan di Tunisia adalah gejolak pertama Arab Spring 2011, dan seringkali dipuji sebagai peristiwa paling sukses di negara yang kini menjalankan demokrasi parlementer. Namun, warga di di pelosok negeri itu berjuang untuk mencari pekerjaan di tengah tingkat pengangguran yang tinggi.

Menurut kantor berita Reuters, komisi itu mengatakan bahwa acara dengar pendapat ini bisa meningkatkan investasi ekonomi "karena para investor asing akan mengetahui bahwa Tunisia telah membongkar sistem otoriter dan korup".

Negara ini akan menjadi tuan rumah konferensi investasi pada akhir November nanti.

Topik terkait