Seruan agar MA Filipina membongkar makam Marcos

Ferdinand Marcos, filipina Hak atas foto AP/Bullit Marquez
Image caption Para pendukung mantan presiden Ferdinand Marcos berkumpul di pusaranya di TMP di Manila.

Para pegiat hak asasi manusia di Filipina melancarkan upaya untuk menggali kembali makam jenazah mantan presiden Ferdinand Marcos, yang sudah dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan di ibu kota Manila.

Bersama dengan keluarga korban kekerasan pada masa pemerintahan Marcos dulu, mereka hari Senin (21/11) meminta Mahkamah Agung memerintahkan penggalian makam tersebut,

Walau ditentang oleh sejumlah warga, namun pada Jumat (18/11) pekan lalu, jenazah Marcos sudah dipindahkan dari kota asalnya, Batac, ke TMP di Manila, berdasarkan keputusan MA.

Sebelumnya Presiden Rodridgo Duterte -yang ayahnya pernah menjadi anggota kabinet dalam pemerintahan Marcos- memberi persetujuan agar jenazah mantan diktator itu dimakamkan di TMP.

____________________________________________________________________

Prokontra pemakaman Jenazah Ferdinand Marcos berlanjut

*. Pengamatan I Wayan Antariksawan, mahasiswa Indonesia yang menempuh studi S2 Keperawatan di Centro Escolar University di Manila.

Apalagi dengan adanya beberapa senator yang berkomentar masalah itu, dan juga Wakil Presiden dari Filipian sendiri yang mengomentari tidak layak Ferdinand Marcos dikubur di Taman Makan Pahlawan Filipina.

Menurut saya makin panas karena beberapa kelompok masyarakat juga tetap melakukan unjuk rasa dan demo-demo yang menentang penguburan dan pengembalian jasad Marcos dari TMP.

Hampir di setiap kalangan masyarakat ini menjadi perbincangan. Saya secara pribadi dengan supir taksi jika sedang melakukan perjalanan berdiskusi tentang ini, juga antara mahasiswa, misalnya.

______________________________________________________________________

Bagaimanapun keputusan tersebut ditentang sejumlah pihak karena catatan buruk hak asasi dan mewabahnya korupsi di Filipina di bawah Marcos.

Bahkan banyak kasus pembunuhan maupun penculikan yang belum terungkap sampai sekarang.

Hak atas foto AP/Bullit Marquez
Image caption Mantan Presiden Fidel Ramos juga menentang pemakaman jenazah Marcos di Taman Makam Pahlawan.

"Bagaimana bisa seorang penjarah dan despot dan pelanggar hak asasi manusia mendapat kehormtan seperti itu di tempat kenangan orang-orang yang baik," kata Edcel Lagman, seorang anggota Kongres yang saudaranya -seorang pengkritik Marcos- hilang diculik dan tidak pernah ditemukan lagi.

Di Indonesia, perdebatan juga masih berlangsung atas pemberian gelar pahlawan nasional kepada mantan presiden Soeharto, dengan alasan serupa: pelanggaran hak asasi dan korupsi di bawah pemerintahan Orde Baru pimpinannya.

Dianggap 'menghina'

Mantan Presiden Fidel Ramos, yang juga mantan panglima angkatan bersenjata Filipina, juga menentang pemakaman Markos di TMP.

"Itu merupakan penghinaan, mengecilkan peran dan pengorbanan dari angkatan bersenjata kita.... Tentu saja mereka (yang anti-Marcos) berhak untuk unjuk rasa, katanya seperti dikutip kantor berita AFP.

Para pegiat dan keluarga korban kekejaman rezim Marcos sudah merencanakan unjuk rasa besar pada Jumat 25 November mendatang.

Ferdinand Marcos -bersama istrinya, Imelda- menguasai Filipina selama 20 tahun namun berhasil dijatuhkan tahun 1986 lewat aksi unjuk rasa satu juta orang yang disebut Revolusi Kekuatan Rakyat.

Marcos meninggal dunia di tempat pengasingannya di Honolulu, Hawaii, pada 28 September 1989 karena gangguan ginjal, jantung, dan paru-paru.

Jenazahnya dibalsem di kota Batac sampai dipindahkan ke TMP di Manila.

Topik terkait

Berita terkait