'Polisi syariah' Jerman tidak melanggar hukum

Sebuah rekaman di Youtube menunjukkan orang-orang itu melakukan 'patroli' yang membangkitkan kemarahan banyak orang. Hak atas foto AP
Image caption Sebuah rekaman di Youtube menunjukkan orang-orang itu melakukan 'patroli' yang membangkitkan kemarahan banyak orang.

Pengadilan Jerman menyatakan bahwa tujuh orang lelaki yang melakukan patroli syariah tidak melanggar hukum tentang seragam politik.

Bagaimanapun keputusan tersebut masih belum tetap karena masih terbuka untuk banding.

Pada tahun 2014, kelompok ini memicu kemarahan di kota Wuppertal, ketika menghampiri orang-orang dengan mengenakan rompi warna oranye bertuliskan "Shariah Police," atau polisi syariah.

Mereka menuntut orang-orang untuk tidak berjudi, minum alkohol, dan mendengarkan musik.

Terduga pemimpin kelompok ini, Sven Lau, adalah seorang da'i terkenal berhaluan keras.

Ia dihadapkan dengan pasal pidana lain, terkait dugaan dukungannya pada sebuah kelompok teroris yang berperang di Suriah.

Sebuah rekaman di Youtube menunjukkan orang-orang itu melakukan 'patroli' yang dikecam Dewan Pusat Muslimin Jerman, yang menyebut bahwa perilaku mereka 'buruk bagi kaum Muslimin.'

Hak atas foto AP
Image caption Sven Lau, seorang Jerman yang masuk Islam, adalah seorang da'i terkenal berhaluan keras yang diduga pemimpin kelompok itu.

Menurut pengadilan Wuppertal, ketujuh orang itu hanya bisa dinyatakan melanggar hukum jika baju seragam mereka "mengintimidasi, atau mengesankan sebagai militan," kata seorang juru bicara pengadilan.

Pidana yang didakwakan, asalnya dimaksudkan untuk menyasar gerakan jalanan seperti partai Nazi awal.

Dalam kasus ini, pengadilan menganggap rompi mereka tidak intimidatif, dan tak ada yang menganggap mereka menyerupai suatu kelompok kriminal atau militan.

Di pengadilan awal, para terdakwa sudah dibebaskan tahun lalu, namun kemudian diubah oleh pengadilan banding yang memutuskan bahwa pidana larangan seragam bisa diterapkan.

Orang-orang yang menyebut diri 'patroli syariah' dari kalangan muslim ultra-konservatif ini telah muncul di berbagai kota di Eropa, termasuk London, Kopenhagen dan Hamburg.