Warga Australia perekrut ISIS ternyata masih hidup

Prakash ISIS Hak atas foto Al HAYAT MEDIA CENTER
Image caption Prakash adalah warga Melbourne berdarah campuran Kamboja dan Fiji yang dianggap sebagai perekrut dan fasilitator serangan ISIS dari Australia.

Seorang militan Australia yang diyakini sebagai pengerah calon petempur kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS ternyata masih hidup.

Bulan Mei lalu, pemerintah Australia mengumumkan Neil Prakash, tokoh perekrut penting di ISIS, terbunuh dalam serangan udara AS.

Disebutkan Jaksa Agung Australia, George Brandis, waktu itu Prakash tewas di Mosul, Irak.

Namun harian New York Times dalam laporannya Jumat (25/11) menyebutkan bahwa Prakash masih hidup, berdasarkan informasi dari sumber di pemerintahan AS.

Sementara itu Australian Broadcasting Corporation melaporkan, Prakash menyerahkan diri kepada otoritas Turki beberapa pekan lalu.

Asisten Perdana Menteri Australia untuk kontra-terorisme, Michael Keenan, mengatakan, mereka tidak bisa berbicara tentang bahan-bahan inteljen.

"Pemerintah mengumumkan kematian Prakash Mei lalu berdasarkan informasi dari pemerintah AS bahwa ia telah terbunuh dalam sebuah serangan udara," katanya dalam sebuah pernyataan.

"Tapi kami sudah mengatakan, bahwa kemampuan pemerintah untuk mengukuhkan laporan baik dari Suriah maupun Irak, sangatlah terbatas. Keduanya merupakan medan perang dengan kawasan-kawasan tak bertuan."

Perekrut dan fasilitator serangan

Prakash, yang juga dikenal sebagai Abu Khaled al-Cambodi, diyakini terkait dengan sejumlah rencana serangan di Australia, dan tampil di sejumlah video dan majalah propaganda ISIS.

Saat mengumumkan kematiannya Mei lalu, Jaksa Agung Australia, George Brandis mengatakan Prakash adalah "anggota Isil (ISIS) terkemuka dan seorang perekrut dan fasilitator serangan yang penting."

"Prakash terkait dengan beberapa rencana serangan dari Australia dan menyerukan serangan mandiri (lone-wolf) terhadap yang berbau Amerika Serikat," katanya.

"Dia juga aktif merekrut warga Australia -lelaki, perempuan dan anak-anak, dan menyerukan aksi terorisme."

Prakash yang berdarah campuran Kamboja dan Fiji, pindah dari agama Buddha dan masuk Islam pada tahun 2012. Dia meninggalkan Australia dan pindah ke Suriah di 2013.

Topik terkait

Berita terkait