'Perempuan Berbaju Putih' batalkan unjuk rasa mingguan di Havana

Damas de Blanco Hak atas foto Getty/Sven Creutzmann/Mambo Photo
Image caption 'Damas de Blanco' adalah kelompok pembangkang yang bebas menggelar aksi unjuk rasa tiap hari Minggu di Havana.

Sebuah kelompok pembangkang Kuba yang paling menonjol membatalkan unjuk rasa tradisional mereka untuk pertama kalinya dalam 13 tahun, menyusul kematian Fidel Castro, pemimpin revolusi negeri itu.

Kelompok yang dikenal sebagai Damas de Blanco, atau Perempuan Berbusana Putih mengatakan keputusan ini diambil untuk menghindari ketegangan.

Kelompok yang didirikan oleh para istri pembangkang yang dipenjarakan itu, telah lama menentang larangan unjuk rasa di Kuba dengan menggelar unjuk rasa mingguan.

Castro meninggal pada hari Jumat pada usia 90. Bendera-bendera dikibarkan setengah tiang, dan Kuba memberlakukan masa berkabung selama sembilan hari.

Mulai Senin (28/11) ini, warga akan bisa memberikan penghormatan di tempat-tempat dan acara-acara yang ditentukan sebelum abu Castro dibawa ke Santiago de Cuba, tempat ia mulai melancarkan revolusinya.

Sebuah upacara kebesaran untuk umum direncanakan diselenggarakan di Alun-alun Revolusi di Havana, Selasa (29/11) besok.

Hak atas foto Getty/Sven Creutzmann/Mambo Photo
Image caption Kelompok Damas de Blanco di Kuba memutuskan tidak melangsungkan akksi Mingguan mereka, karena mereka 'tidak merayakan kematian seorang manusia.'

Namun di kota Miami AS, tempat banyak warga Kuba di pengasingan yang anti-Castro menetap, sejumlah orang merayakan kematian Castro dengan riang gembira.

Penyebab kematian belum terungkap, tetapi kesehatan Castro belakangan ini memang memburuk karena penyakit usus yang bahkan hampir merenggut jiwanya pada tahun 2006.

Suasana di ibukota tetap kelam, dan orang-orang masih membicarakan kematian sang revolusionr, lapor wartawan BBC Barbara Plett-Usher di Havana.

Castro berkuasa pada 1959 melalui suatu revolusi komunis.

Pendukungnya menganggap ia mengembalikan Kuba kepada rakyat, dan memujinya untuk sejumlah program sosialnya, seperti kesehatan dan pendidikan masyarakat.

Tapi di sisi lain, ia dianggap sebagai seorang diktator, yang memimpin pemerintah yang tidak mentolerir oposisi dan perbedaan pendapat, dan dituding melakukan sejumlah pelanggaran hak asasi manusia.

Hak atas foto Esteban Felix
Image caption Sejumlah orang larut dalam duka, di sebuah acara perkabungan di luar kedutaan Kuba di Santiago, Chile.

Unjuk rasa reguler hari Minggu yang dilakukan oleh kelompok Damas de Blanco adalah ekspresi langka perbedaan pendapat yang ditoleransi oleh pemerintah.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, polisi menekan mereka pula, koresponden kami di Havana menambahkan.

Kaum perempuan ini berbaris dalam keheningan dan berjalan melalui jalan-jalan Havana sesudah misa di sebuah Gereja Katolik, meminta pembebasan tahanan politik dan penghormatan hak asasi manusia.

"Kami tak berunjuk rasa hari (Minggu) ini, agar pemerintah tak menganggapnya sebagai suatu provokasi, dan agar orang-orang bisa menyampaikan duka cita mereka," kata pemimpin kelompok ini, Berta Soler.

"Kami menghormati duka cita orang lain, dan tak akan merayakan kematian seorang manusia."

Sebelumnya, kelompok ini menulis di Twitter mereka: Fidel Castro telah mati, semoga Tuhan mengampuninya. KAMI TIDAK AKAN (memaafkannya).

Otoritas Kuba menuding Perempuan Berbaju Putih ini dibayar Amerika Serikat, dan merupakan bagian dari 'berpuluh tahun upaya AS untuk merusak revolusi sosialis Kuba."

Menurut pemerintah, tak ada tahanan politik di negeri itu.

Berita terkait