Donald Trump menuding jutaan orang mencoblos secara ilegal dalam Pilpres yang ia menangkan

Donald Trump Hak atas foto AFP
Image caption Donald Trump tidak memberikan bukti yang mendukung klaimnya.

Presiden-terpilih AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya memenangkan perolehan suara terbanyak atau popular vote pada pemilihan presiden 8 November lalu, 'jika suara dari jutaan orang yang memilih secara ilegal tidak dihitung.'

Presiden terpilih dari Partai Republik yang memenangkan electoral college itu tidak memberikan bukti yang mendukung pernyataannya.

Pernyataan tersebut ia sampaikan setelah tim kandidat dari Partai Demokrat Hillary Clinton mengatakan mereka akan mendukung penghitungan ulang suara di Wisconsin yang diprakarsai kandidat dari Partai Hijau, Jill Stein.

Hillary Clinton memenangkan dua juta suara lebih banyak dari Trump dalam popular vote. Namun, Trump melampaui batas perolehan 270 electoral vote untuk memenangkan kursi presiden.

Trump menulis dalam bentuk cuitan di Twitter: "Selain menang besar dalam Electoral College, saya memenangkan perolehan suara terbanyak jika suara dari jutaan orang yang memilih secara ilegal tidak dihitung."

Hak atas foto Twitter
Image caption Donald Trump: "Selain menang besar dalam Electoral College, saya memenangkan perolehan suara terbanyak jika Anda mengurangi jutaan suara dari orang yang memilih secara ilegal."

Dalam cuitan berikutnya, Trump menulis: "Memenangkan popular vote akan jauh lebih mudah bagi saya dibanding Electoral College, saya cukup berkampanye di 3 atau 4 negara bagian saja dan bukan 15 negara bagian yang saya kunjungi."

"Saya juga akan menang dengan jauh lebih mudah dan meyakinkan (tapi negara bagian kecil terlupakan)!"

Trump juga menuduh terdapat 'kecurangan serius' di Virginia, New Hampshire, dan California - negara bagian yang dimenangkan Clinton - serta menyalahkan media AS karena tidak meliput masalah tersebut.

Pada hari Minggu (27/11), sang presiden-terpilih mengingatkan saingannya dari partai Demokrat, Hillary Clinton, bahwa ia telah mengakui kekalahan.

Hak atas foto AP
Image caption Hillary Clinton telah mengakui kekalahannya pada pemilihan presiden 8 November lalu.

Trump menang tipis dari Clinton di Wisconsin, negara bagian yang melakukan penghitungan ulang suara dimulai pada pekan lalu melalui prakarsa kandidat dari Partai Hijau, Jill Stein.

Stein juga menginginkan penghitungan ulang di Michigan dan Pennsylvania, dengan menyebut adanya 'anomali statistik.'

Ia kabarnya ingin memastikan peretas komputer tidak membelokkan hasil pemungutan suara sehingga berpihak kepada Trump.

Kekhawatiran akan campur tangan Rusia muncul pada masa-masa menjelang pemungutan suara.

Pemerintah AS mengatakan pejabat pemerintah Rusia berada dibalik peretasan Komite Nasional Partai Demokrat, klaim yang dibantah Moscow.

Namun untuk mengubah hasil pilpres, perubahan hasil di Wisconsin saja, jikapun meamang berbeda, tetap tidak cukup. Masih dibutuhkan hasil yang berbeda di Michigan, dan Pennsylvania - hal yang kemungkinannya kecil, menurut pengamat.

Tim kampanye Clinton mengatakan mereka akan berpartisipasi dalam penghitungan ulang di Wisconsin.

Pengacara tim kampanye Hillary Clinton, Marc Elias, mengatakan memang tak ada bukti untuk menyimpulkan bahwa pemilu telah disabotase, namun "kami punya kewajiban pada lebih dari 64 juta warga Amerika yang memilih Hillary Clinton untuk ikut serta dalam proses yang tengah berjalan demi memastikan penghitungan suara yang akurat."

Berita terkait