Krisis politik Korea Selatan, rakyat 'cari kesempatan baru'

Presiden Park Geun-hye Hak atas foto Getty Images
Image caption Presiden Park Geun-hye telah meminta maaf kepada rakyat Korea Selatan.

Selama beberapa pekan terakhir, demonstrasi besar terjadi di ibu kota Korea Selatan, Seoul, untuk menuntut pengunduran diri Presiden Park Geun-hye.

Presiden perempuan itu didera skandal terkait tuduhan bahwa orang kepercayaannya dibiarkan terlibat dalam urusan kenegaraan dan memaksa perusahaan-perusahaan di negara itu menyumbangkan dana ke sejumlah yayasan yang dijalankannya.

Setelah bersikukuh tidak akan mundur, Presiden Park hari Selasa ini (29/11) menyatakan kesiapan untuk melepaskan jabatan jika pengunduran dirinya sudah diproses parlemen sehingga tidak sampai timbul kavakuman.

Perkembangan itu, kata pengamat politik di Korea Selatan, Profesor Yang Seung Yoon, disambut oleh rakyat negara itu yang selama ini memandang krisis tersebut bermakna ganda.

"Yaitu, waktu krisis itu sendiri, dan yang lain kesempatan yang baru.

"Walaupun waktu krisis Presiden Park akan ditutup dalam waktu tidak lama lagi, semua rakyat Korea mencari kesempatan yang baru," jelas Profesor Yang Seung Yoon yang fasih berbahasa Indonesia.

Hak atas foto Reuters
Image caption Gelombang demonstrasi melanda Korea Selatan untuk menuntut presiden mundur.

Ia lantas memberikan contoh tekad rakyat Korea Selatan dalam menghadapi krisis keuangan tahun 1997. Ketika itu, rakyat berhasil mengumpulkan emas dan uang senilai US$2,5 miliar atau sekitar Rp33 triliun dalam tempo tiga bulan saja.

"Seperti halnya itu rakyat Korea secara bijaksana mengatasi krisis politik di Korea di saat sekarang," kata Profesor Yang dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir.

Ditambahkannya rakyat Korea Selatan pada umumnya sangat kecewa dengan Presiden Park Geun-hye karena dianggap tidak mewarisi keteladanan almarhum ayahnya, Presiden Park Chung-hee, yang memerintah mulai dari 1963 hingga dibunuh pada 1979.

"Jadi yang sangat dikecewakan oleh masyarakat Korea bahwa mengapa Presiden Park sekarang tidak bisa dibandingkan dengan almarhum ayahnya? Jadi rakyat Korea, menurut saya, sangat kecewa."

Bagaimanapun, lanjut Profesor Yang, krisis politik yang melanda Korea Selatan tidak sampai mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk demonstrasi akbar di akhir pekan.

"Demonstrasi jutaan (warga) sipil berlangsung tanpa kerusuhan sedikit, sangat damai, dan bersih jalannya tidak ada sampah sama sekali, tidak ada yang ditangkap.

Meskipun sudah menyatakan bersedia mundur, Park Geun-hye, tidak memberikan rincian waktu kapan hal itu akan terjadi atau apakah memang benar-benar jadi melepaskan jabatan.

Ia meminta parlemen untuk mencari cara pengunduran dirinya, termasuk kemungkinan memperpendak masa jabatan yang sedianya berakhir pada 2018.

Para politikus oposisi mengatakan presiden menyatakan hal tersebut sebagai taktik untuk menghindari pemakzulan.

Topik terkait

Berita terkait