Militer AS larang jalur pipa minyak di kawasan Indian kendati disetujui Trump

India Sioux
Image caption Suku Indian Sioux merayakan keputusan militer Amerika itu.

Militer Amerika melarang rencana pembangunan jalur pipa minyak melintasi sebuah waduk di tanah yang mereka kuasai di negara bagian North Dakota, Amerika Serikat. Keputusan ini didukung pengunjuk rasa.

Suku Indian Standing Rock Sioux menyebut keputusan itu 'bersejarah' dan mereka 'berterima kasih' kepada Presiden Barack Obama.

Dengan melarang jalur pipa minyak di lahan miliknya itu, militer Amerika berencana mencarikan jalur lain, ungkap perwakilan pengunjuk rasa.

Suku Sioux telah melakukan protes terkait rencana pembangunan jalur pipa sejak bulan April. Ini karena pemukiman mereka terletak dekat waduk yang berada di Danau Oahe tersebut.

"Militer akan mencarikan jalur pipa baru, yang paling aman secara lingkungan."

Jalur pipa minyak itu rencananya akan dibangun sepanjang 1.900 km. Pemasangannya hampir selesai. Hanya bagian pipa melintasi kawasan itu yang belum dibangun.

Suku Sioux bersama suku Indian Amerika lainnya menolak pembangunan jalur pipa minyak karena mereka khawatir, pipa minyak akan mengkontaminasi air minum mereka dan merusak wilayah pemakaman di sekitar danau.

Terkait Trump?

Ratusan veteran militer bergabung dalam aksi demo minggu lalu. Mereka menyampaikan aspirasinya dalam kondisi cuaca dingin di bawah titik beku dan bersalju. Meskipun begitu, mereka telah diminta untuk berhenti dan meninggalkan lokasi demo Senin (05/12) ini.

Image caption Pengunjuk rasa berdemo dalam situasi cuaca dingin dan bersalju.

Presiden Amerika terpilih, Donald Trump, memiliki saham di perusahaan asal Texas, Energy Transfer Partners, yang mengerjakan proyek itu, mengungkapkan bahwa dirinya mendukung proyek pembangunan pipa minyak itu.

Namun, Trump membantah persetujuannya itu karena alasan keuntungan finansial.

Gubernur North Dakota, Jack Dalrymple menyebut keputusan itu 'kesalahan serius.'

Sementara itu anggota DPR North Dakota, Kevin Cramer menyebut keputusan militer Amerika itu "memberikan sinyal kuat" tentang harus adanya cek dan ricek pada setiap pembangunan.

Berita terkait