Obama didesak persulit upaya Trump untuk mendata pemeluk Islam

Obama Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Obama membekukan sistem pendaftaran keamanan nasional era Bush pada 2011.

Presiden Obama didesak untuk membongkar sama sekali sistem di era George W Bush yang dipakai untuk mendata para pemeluk Islam di Amerika Serikat.

Tujuannya adalah jika sistem ini dibongkar maka akan sulit bagi presiden terpilih Donald Trump untuk menyusun data tentang Muslim di negara tersebut.

Sistem pendaftaran tersebut ada sejak zaman Bush namun dibekukan oleh Presiden Obama pada 2011 dan sejak itu tak lagi dipakai.

Desakan penghapusan sistem pendaftaran disampaikan oleh puluhan anggota DPR dari Partai Demokrat melalui surat kepada Presiden Obama dan menteri keamanan dalam negeri menghapus sistem dan peraturan yang dipakai sebagai dasar hukum sistem tersebut.

Sistem ini menyebabkan 13.000 orang dari 25 negara dideportasi namun tak satu pun dari orang-orang ini yang dinyatakan terlibat dalam kegiatan terorisme.

"Kami yakin bahwa menghapus sistem (dan perangkat yang menjadi dasar hukum) tersebut sesuai dengan nilai-nilai dasar negara kita," demikian bunyi surat para anggota DPR tersebut seperti diberitakan media Inggris The Independent, hari Senin (05/12).

Kris Kobach, pejabat Kansas yang besar kemungkinan akan diangkat oleh Trump untuk membawahi masalah keamanan dalam negeri mengatakan ia akan memperbarui dan menerapkan kembali sistem registrasi era Bush.

Namun anggota-anggota DPR dari Demokrat mengatakan aturan tersebut telah menyebabkan iklim 'ketakutan' dan memisahkan anggota keluarga dan masyarakat.

Trump mengusulkan pelarangan orang-orang Islam masuk ke Amerika namun kemudian melunak dengan mengatakan pelarangan ini hanya berlaku untuk orang-orang yang tidak mendukung nilai-nilai Amerika.

Menteri pertahanan di kabinet Trump, Jenderal Michael Flynn, mengatakan dirinya bisa memahami 'kekhawatiran terhadap Muslim' dan ia pernah membandingkan Islam dengan kanker.

Penasehat keamanan Trump, KT McFarland, mengatakan terdapat setidaknya satu juta Muslim 'yang ingin menghancurkan nilai-nilai Barat yang dipegang teguh oleh Amerika'.

Berita terkait