Mantan sekjen PBB tegaskan kekerasan di Myanmar bukan genosida

Kofi Annan Hak atas foto Reuters
Image caption Kofi Annan mengatakan para pemantau harus sangat berhati-hati dalam menggunakan istilah genosida.

Mantan Sekjen PBB, Kofi Annan, menegaskan bahwa kekerasan terhadap anggota etnik minoritas Rohingya di Myanmar bukan pembunuhan besar-besaran secara berencana atau genosida.

"Ada ketakutan, ada rasa saling tidak percaya. Rasa takut ini diakui ada, namun kita harus mencari solusi atas ketegangan di Negara Bagian Rakhine, di mana Muslim Rohingya hidup bersama mayoritas pemeluk Buddha," kata Annan kepada BBC setelah mengunjungi Rakhine, hari Selasa (06/12).

Ia menambahkan bahwa para pemantau 'harus sangat berhati-hati dengan istilah genosida'.

Annan berada di Myanmar dalam kapasitas sebagai ketua tim yang bertugas menangani masalah di Rakhine. Ia masuk ke tim ini atas permintaan pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi.

Sejumah kelompok kemanusiaan mengatakan hampir 22.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh untuk menyelamatkan diri dalam dua bulan terakhir.

Hak atas foto EPA
Image caption Tuduhan telah terjadi genosida terhadap etnik minoritas Rohingya antara lain disuarakan oleh PM Malaysia, Najib Razak.

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak ketika mengikuti unjuk rasa solidaritas Rohingya di Kuala Lumpur hari Minggu (04/12) mengatakan telah terjadi genosida di Myanmar.

Krisis terbaru pecah setelah kelompok militan menyerang pos-pos keamanan di Rakhine, menewaskan sembilan anggota polisi pada awal Oktober.

Sejak itu militer menggelar operasi keamanan dan beberapa organisasi hak asasi manusia mengatakan orang-orang Rohingya menjadi korban 'hukuman kolektif' atas aksi yang dilakukan beberapa milisi di Rakhine.

Para pegiat Rohingya mengatakan diduga telah terjadi pelanggaran HAM dalam bentuk perkosaan, penembakan, dan pembakaran rumah.

Pemerintah Myanmar menolak tuduhan tersebut dengan mengatakan tudingan ini 'tak sesuai kenyataan di lapangan'.

Pada akhir pekan, Suu Kyi mengatakan bahwa semua pihak harus fokus menyelesaikan masalah dan bukan 'membesar-besarkan persoalan'.

Topik terkait

Berita terkait