Donald Trump hendak batalkan pesawat baru Air Force One

Donald Trump Hak atas foto AFP
Image caption Donald Trump berpendapat Boeing mengeruk keuntungan terlalu besar dari pemesanan Air Force One.

Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pemerintah mestinya membatalkan pembelian dua pesawat baru kepresidenan yang dikenal dengan nama Air Force One.

Menurut Trump, biaya untuk membeli pesawat baru itu terlalu mahal.

"Boeing membuat pesawat baru 747 Air Force One untuk presiden-presiden mendatang, tetapi biayanya di luar kendali, lebih dari US$4 miliar (sekitar Rp53 triliun). Batalkan pemesanan!".

Demikian cuitan Trump pada Selasa (06/12).

Di luar cuitan itu, Trump juga mengatakan kepada para wartawan di New York bahwa Boeing mengeruk keuntungan secara berlebihan.

"Kami ingin Boeing menghasilkan uang banyak, tetapi tidak sebanyak itu," kata Trump.

Hak atas foto MANDEL NGAN/AFP
Image caption Presiden Barack Obama turun dari Air Force One yang dilengkapi dengan berbagai peralatan khusus.

Kantor Akuntabilitas Pemerintah memperkirakan biaya keseluruhan dari proyek ini mencapai US$3,2 miliar, tetapi jumlah pastinya diperkirakan lebih tinggi.

Pemerintah Amerika Serikat sudah meneken kontrak dengan Boeing untuk memproduksi setidaknya dua pesawat baru.

Pesawat-pesawat itu diharapkan dapat dioperasikan sekitar tahun 2024 mendatang. Dengan demikian, Trump tidak akan menikmati pesawat Air Force One baru kecuali ia menang lagi dalam pemilihan presiden untuk masa jabatan kedua.

Namun Angkatan Udara Amerika Serikat mendesak agar pengiriman pesawat baru dipercepat karena pemeliharaan pesawat-pesawat yang ada sekarang sudah terlalu mahal.

Sebelum dilantik, Trump menggunakan pesawat pribadi, namun setelah diambil sumpah pada 20 Januari mendatang ia akan menggunakan pesawat Air Force One, yang dilengkapi dengan pengamanan khusus, peralatan pertahanan dan komunikasi khusus pula.

Pernyataan Donald Trump terkait rencana pembatalan pemesanan ke Boeing sontak membuat saham produsen pesawat terbang itu turun hampir 1%.

Berita terkait