Politisi anti-Islam, Geert Wilders, bersalah menghina satu kelompok

Belanda, Wilders Hak atas foto Reuters
Image caption Wilders didakwa menyebarkan kebencian dalam pidatonya tahun 2014 lalu.

Politisi Belanda anti-Islam, Geert Wilders, dinyatakan bersalah menghina satu kelompok dan memicu diskriminasi.

Namun tidak ada hukuman yang dijatuhkan kepada pemimpin Partai Kebebasan (PVV) tersebut, yang menurut jajak pendapat unggul menjelang pemlihan parlemen, Maret 2017.

Hakim Hendrik Steenhuis mengatakan pengadilan tidak menjatuhkan hukuman karena vonis bersalah sudah cukup untuk menghukum seorang anggota parlemen yang dipilih secara demokratis.

Wilders dinyatakan tidak bersalah dalam dakwaan menyebarkan kebencian ketika mengatakan kepada para pendukung partainya, Maret 2014, bahwa dia akan menjamin lebih sedikit orang Maroko di Belanda.

Geert Wilders

dan Partai Kebebasan (PVV)

12

kursi dari 150 kursi parlemen Belanda

35

kursi seperti diperkirakan jajak pendapat terbaru

  • 3 juta pemilih Belanda akan mendukung PVV, menurut bveberapa jajak pendapat

Getty Images

Lewat pesan Twitter, dia mengatakan vonis atasnya 'edan' dan akan mengajukan banding.

Vonis ini ditetapkan setelah sidang selama tiga minggu yang dipicu oleh 6.400 laporan kepada polisi tentang komentarnya dalam kampanye pemilihan lokal dua tahun lalu.

Wilders sendiri tidak datang dalam pengadilan yang digelar di dekat kota Amsterdam, yang berlangsung tiga bulan sebelum pemilihan umum.

Hak atas foto EPA/REMKO DE WAAL
Image caption Hakim berpendapat vonis bersalah sudah cukup sebagai hukuman bagi seorang anggota parlemen.

Dia berulang kali membantah dakwaan tersebut dengan alasan melakukan tugasnya sebagai pemimpin politik dengan menunjuk masalah di dalam masyarakat.

Sebelum membacakan vonis, Hakim Steenhuis menegaskan bahwa kebebasan berbicara tidak sedang diadili, seperti dituduhkan oleh Wilders.

"Kebebasan berbicara adalah satu landasan dari masyarkat demokratis kita," kata hakim. "Kebebasan berbicara bisa dibatasi, misalnya, untuk melindungi hak dan kebebasan orang lain, dan begitulah kasus ini,"

Jika kita, Belanda, tiba-tiba menjadi rasis karena ingin Suertepit tetap menjadi hitam... jika kita menjual kebebasan berbicara, maka negara yang indah ini akan terkutuk.”

Geert Wilders
AP

Jaksa dalam dakwaannya berpendapat bahwa Wilders melanggar batas kebebasan berbicara karena secara khusus menjadikan orang Maroko sebagai sasaran.

Tahun 2011, politisi kontroversial ini dinyatakan tidak bersalah dalam dakwaan pidato kebencian karena mengkritik Islam setelah membandingkannya dengan Nazi dan menyerukan larangan atas Al Quran.

Topik terkait

Berita terkait